Hujan
7:28 PMSecara teoritik hujan hanyalah air yang jatuh dari awan, yakni air yang cair, tetesannya mempunyai garis tengah 0,1-5,5 mm dan kecepatan jatuhnya 0,1-8 mm per detik. Selain itu, hujan guruh atau dalam bahasa Ingris disebut sebagai thunder atau thunderstorm adalah perubahan keadaan atau cuaca karena masuknya udara yang sangat dingin dalam kawasan udara yang panas. Karena itu uap udara yang panas tadi berkondensasi yang artinya hujan turun. Karena arus udara yang naik dan yang bertukar-tukar, maka tetesan hujan itu terhembus sehingga pecah berhamburan dan timbullah dua macam tetesan, yang satu berupa tetesan kecil-kecil yang bermuatan negatif dan saudaranya berupa tetesan-tetesan besar yang bermuatan positif. Tetesan yang kecil dengan mudah terbawa udara naik keatas dan semakin menjauhkan jarak antara yang negatif dan positif dan menimbulkan gejala listrik dan melepaskan energi bernama Halilintar. Begitu saja penjelasan tentang hujan, tak lebih tak kurang.
Tetapi segala sesuatu akan kehilangan makna jika segala sesuatu itu tidak dilihat dari kebeningan jiwa. Karena kacamata begitulah, hujan yang hanya berupa tetesan air hanyalah sebuah gejala alam yang tak berarti apa-apa. Semua berlalu secara mekanik, ibarat matahari yang selalu terbit di timur dan berhenti dipeluk malam pada titik barat. Lalu kalau demikian, dimanakah keagungan hidup ?.
Keagungan hidup adalah hasil dari persekutuan kimiawi yang membentuk ketajaman pemikiran yang bercampur baur dengan rasa dan karsa. Percampuran yang dikehendaki ini "bergalintin pintin" memperhalus budi sehingga melihat apa yang tidak diuangkap secara terang benderang, dimana seorang buta akan melihat cahaya terang dikegelapannya. Pada titik itulah hujan kemudian menuai makna.
Pemaknaan hujan sebagai sebuah benda alam yang terkutuk membawa rasa nelangsa atau harapan yang melimpah ruah bukanlah tergantung kepada umur, sebab, meminjam istilah iklan sampoerna, tua itu pasti tapi dewasa adalah pilihan. Kali ini kata bernas yang terjebak pada jargon komersialitas itu saya ubah menjadi, "Tua itu Pasti, Menjadi Arif Itu Pilihan".
Kerapkali hujan menanggung kerinduan seorang pecinta, membelit dan mencekik. Sebab ia memaknai hujan sebagai jembatan rasanya yang rindu berbalut dendam. Menyakitkan sekaligus indah. Apalagi para pungguk yang cintanya tak pernah sampai, tidur bergelung, menghitung kasau, dan ketika mata dipaksa untuk terpejam, dipelupuk menari bayangannya, pada jenjang itulah hujan yang jatuh diatap, ibarat asam cuka yang mengalir dibubungan, kemudian merembes dan jatuh pada pertengahan luka. Itulah luka kerinduan yang diasami rintik hujan. Hingga tak heran, seorang Zalmon, penyayi tua Padang, menyanyi sembari meratap, mendendangkan "Rinai Pembasuh Luka".
Pada petani, hujan adalah salah satu prasyarat penting untuk menyambung kehidupan. Keberadaan hujan kemudian menempati posisi sakral dan memiliki keterikatan mistis dan magis dengan dia yang memiliki segala ada, yang adanya, ada sebelum yang ada itu ada bahkan dalam filsafat minang menyebutkan sebelum apa yang disebut dengan belum (sabalun alun barabalun) ia sudah ada.
Hujan sebagai episentrum kebudayaan pertanian lahan basah telah melahirkan apa yang disebut dengan "Pranoto Wongso" di Jawa, dimana siklus dengan pertanda alam tentang masa turun kesawah dijalankan dengan takzim berabad-abad berintikan putaran sang hujan. Demikian juga ritual-ritual kuno sampai ke agama-agama samawi memiliki doa'a-do'a sakral peminta hujan. Bahkan diberbagai kesempatan petanda linuwihnya para penguasa dan makbulnya para ulama adalah ketika ia dapat meminta hujan saat kemarau mengantarkan paceklik dan kelaparan pada penduduk negeri.
Tetapi telah bertahun kata hujan bersisian erat dengan bencana. Langit telah mengirimkan hujan yang menggelontorkan bukit dan tebing-tebing keperkampungan, bahkan aur dan rumpun-rumpun bambu tak lagi sanggup menjalani takdir sebagai teman sehidup semati tebing. Iapun ikut "rompak" terguling bersama bongkahan tanah menghimpit pondok-pondok petani. Hujan juga mengirim danau ke kota-kota, ketika kayu-kayuan telah berubah menjadi pancang-pancang beton dan diatasnya mesin-mesin berlarian, mengirimkan kepulan asap hitam dan seketika mengurung angkasa.
Murkakah sang langit ketika hujan tak membawa berkah dan itupun makin lama datang tak terduga. Pranoto Wongso atau apapun pola adaptif terhadap kearifan sang hujan telah kacau balau. Harapan yang biasanya tersimpan pada kantung-kantung hitam awan yang bergayut diangkasa, kini menghampa. Pengerukan tak henti segala benda dan unsur bumi sampai keintinya telah memutus banyak rantai-rantai kehidupan. Ya inilah dekade keserakahan seperti yang dikatakan oleh Josep E. Stiglitz.
Kalau kita kembali kepada cerita-cerita kuno dan cerita-cerita alkitab, bukankah hampir semua peradaban dihancurkan ketika keserakahan telah sampai pada titik paripurna. Seperti cerita Fir'aun yang mengaku tuhan, hari ini belalang datang bergelombang-
Hujan selain padanya disandangkan makna melankolik, romanitisisme cinta, padanya juga tak jarang ditumpahkan segala sumpah serapah. Ya sumpah serapah para pedagang kaki lima yang tidak mendapatkan apa-apa pada malam bazar kampung, karena para pengunjung lebih memilih tidur atau bersiap menanti banjir akan datang. Pilihan model ekonomi yang mengakumulasi pertumbuhan pada segelintir tangan-tangan gurita raksasa telah mengusir mereka dari pusat-pusat perdagangan seperti Blok M dan Tanah Abang. Hingga mereka hanya memiliki dua pilihan, disapih kebijakan anti kemiskinan yang berbunga-bunga dimedia atau diburu, hingga lenyap dari depan mata. Pada akhirnya para pedagang ini mesti berkesumat dengan hujan.
Kelihatannya kata hujan juga memiliki makna berbeda kali ini di Amerika. Keruntuhan perusahaan-perusaha
Serapuh itukah segala kemudahan dan kemewahan sebuah sistem yang dirindu dan dicerca. Padahal pada saat itu, banyak pihak menyangka dengan berakhirnya perang dingin, maka berakhir pula idiologi. Sistem perusahaan bebas telah berjaya dan kita semua bertugas menyempurnakan sistem itu. Kalahnya komunisme adalah kalahnya patologi, kalahnya sebuah penyimpangan, kalahnya rezim otoriter. Perlawanan terhadap penyimpangan itu mengalihkan perhatian pada masalah besar yakni masyarakat seperti apa yang ingin dibentuk dibumi. Pada akhirnya dalam dunia global ini, apakah kita harus berjalan pada nada genderang yang sama, lalu dimana ruang bagi keberagaman. Pernyataan dan pertanyaan Stiglitz seperti hujan menghantam kebutaan penghambaan kita pada sisitem ekonomi itu.
Pada akhirnya kembalikanlah hujan pada qittahnya, pembawa rahmad dan pertanda kasih sayang yang esa bagi orang-orang yang mau melihat ini sebagai pertanda. Tidak melankolik, menyimpan amarah, gemuruh duka atau menjauh tak berharap, tetapi ia dingin dan mendinginkan tempat kehidupan tumbuh menyambung peradaban.
Pondok Labu, 2 November 2008__,_._,___
Kenapa Harus Moratorium?
7:59 PMDeforestasi dan Bencana Alam
Bencana ekologis tahunan seperti kabut asap, banjir dan kekeringan telah memberikan dampak negative yang cukup besar bagi negeri ini. Hal ini merupakan sebuah indicator termudah untuk melihat bahwa tingkat kerusakan lingkungan hidup di Riau sudah sampai pada tahap mengkhawatirkan.
Proses Deforestasi dan degradasi hutan alam di Propinsi Riau berlangsung sangat cepat. Selama kurun waktu 24 tahun (1982-2005) Propinsi Riau sudah kehilangan tutupan hutan alam seluas 3,7 Juta hectare. Pada tahun 1982 tutupan hutan alam di Provinsi Riau masih meliputi 78% (6.415.655 hektar) dari luas daratan Propinsi Riau 8.225.199 Ha (8.265.556,15 hektar setelah dimekarkan). Hingga tahun 2005 hutan alam yang tersisa hanya 2,743,198 ha (33% dari luasan daratan Riau). Dalam Kurun waktu tersebut provinsi Riau rata-rata setiap tahun kehilangan hutan alam-nya seluas 160.000 Hectare/tahun dan selama periode 2004 - 2005 hutan alam yang hilang mencapai 200 ribu [1]
Investasi Yang Menghancurkan
Jumlah industri legal yang tercatat pada tahun 2005 di Dinas kehutanan Propinsi Riau sebanyak 576 Unit dengan kebutuhan bahan baku menjadi 22,7 juta M3/tahun[2]. Sedangkan kemampuan produksi hutan pada tahun 2000 hanya sekitar 1,1 juta m3/tahun[3] dan terus berkurang setiap tahun. Industri ini terdiri dari industri sawn Timber (Saw mill) mencapai 559 unit, moulding 27 unit, Industri kayu lapis (plywood) 9 unit, chip mill sebanyak 2 unit. Disamping itu dari berbagai study yang dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ditemukan ratusan sawmill illegal yang belum dihitung kapasitas Produksinya.
Tidak seimbangnya kapasitas industri terpasang dengan kemampuan suply bahan baku mengakibatkan terjadinya eksploitasi berlebihan sumberdaya hutan yang melebihi kapasitas daya dukung lingkungan. Dampak yang muncul akibat terganggunya daya dukung lingkungan ini adalah bencana ekologis setiap tahun dialami oleh masyarakat berupa banjir dan bencana asap.
Akibat lain yang muncul karena paradigma investasi berbasis lahan untuk memenuhi kebutuhan industri ini adalah tingginya konflik tenurial antara masyarakat lokal dengan pemilik izin pemanfaatan ruang baik itu perkebunan maupun HTI. Dalam banyak kasus masyarakat selalu berada pada pihak yang dirugikan ketika terjadi konflik dengan pihak perusahaan. Dengan kata lain Rakyat yang seharusnya sebagai pemilik kedaulatan wilayah dan menjadi subjek pembangunan justru harus tersingkirkan dengan mengatas namakan investasi. Jika kedaulatan rakyat terhadap sumberdaya alam ini tidak segera dipulihkan maka Visi Riau 2020 Sebagai Pusat Budaya Melayu di Asia Tenggara justru akan berubah menjadi Pusat Buruh Melayu di Asia Tenggara.
Riau yang Rawan Bencana
Hampir setiap tahun Pemerintah provinsi Riau disibukan mengurusi korban bencana banjir dan asap, persoalan ini lebih disebabkan karakteristik bentangan alam provinsi Riau yang terdiri dari kawasan mineral dan kawasan bergambut. Sekitar 4 juta ha ( 46%) daratan Riau merupakan kawasan bergambut yang sangat labil bila ekosistimnya di rusak. Selama puluhan tahun eksploitasi dan konversi hutan alam rawa gambut di Riau dilakjukan tanpa melalui pertimbangan yang benar dan baik sehingga bencana asap, banjir dan kekeringan terus berulang di Riau setiap tahunnya. Hal ini telah berakibat pada menurunya kualitas udara yang selanjutnya berdapak pada kesehatan dan kehidupan masyarakat Riau. Selama tahun tahun 2005 penderita penyakita Infeksi Salauran Pernafasan Akut ( ISPA) pada anak Balita di provinsi Riau mencapai 7.608 jiwa. Hal lain yang sangat menghawatirkan dari dampak ekosistim hutan rawa gambut adalah terjadinya penurunan permukaan gambut (subsidensi) yang telah dan akan menimbulkan masuknya air laut jauh kedaratan ( Intrusi), hal ini telah dan akan terus mengancam masyarakat yang bermukim pada kawasan bergambut. Untuk itu sangat dibutuhkan Tindakan dan kebijakan Pemerintah yang bersifat kehati-hatian dini (early precaution policy action) dalam pengelolaan kawasan gambut.
Momentum Perubahan
Deforestasi dan bencana alam terjadi karena tidak tegaknya regulasi dalam penataan ruang, baik itu pada tahapan perencanaan, implementasi maupun penertiban. Dari analisis Kabut Riau 2008 terdapat 2.295.300 ha perizinan yang perlu ditertibkan/ dicabut izin pemanfaatan ruangnya karena tidak sesuai dengan Kriteria lahan yang ditetapkan dalam PP no 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Perizinan yang perlu ditertibkan diantaranya seluas 1.570.700 ha Izin Hutan Tanaman Industri (HTI) dan seluas 724.600 ha Izin Perkebunan. [4]
Bencana ekologis yang muncul serta tingginya konflik kepemilikan lahan merupakan kegagalan dalam “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum”[5] sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke 4 adalah merupakan kegagalan bersama dalam membangun sebuah bangsa di setiap level pemerintahan. Penyebab utama dari kegagalan ini adalah tidak tegaknya regulasi dalam penengelolaan sumberdaya alam yang diamanatkan oleh pasal 33 ayat 3 UUD 1945
Keluarnya UU No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang merupakan mandat dan penjabaran dari Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 merupakan momentum positif dalam reformasi regulasi dalam pengelolaan sumberdaya alam serta menjawab kegagalan dari tujuan pembangunan nasional. Momentum perubahan ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh seluruh elemen negara (penyelenggara negara dan rakyat) jika tujuan pembangunan nasional menuju masyarakat adil dan makmur ingin kita capai dimasa yang akan datang.
Moratorium
Berdasarkan kondisi kritis diatas sudah saat-nya dilakukan penataan kembali secara menyeluruh hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan hutan di Provinsi Riau, baik itu penataan kebijakan, perijinan, penyelesaian konflik pertanahan, pencegahan bencana lingkungan ( Kebakaran hutan, banjir dan kekeringan), pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas hidup masyarakat, pendidikan dan sebagainya. Dengan segala persoaalan kehutanan yang terjadi saat ini di Riau penataan kembali akan sangat sulit untuk diimplementasikan apa bila segala aktivitas konversi atau eksploitasi hutan masih terus berlangsung. Penyelesaian dari persoalan diatas hanya bisa dilakukan dengan jalan melakukan MORATORIUM.
Tujuan Moratorium
1. Memberlakukan kebijakan dan melakukan tindakan kehati-hatian dini guna menjamin kepastian hukum bagi terpenuhinya hak-hak rakyat terhadap keselamatan, produktifitas dan jasa alam secara berkelanjutan;
2. Memberlakukan kebijakan dan melakukan tindakan pembenahan guna menjamin kepastian hukum bagi berlangsungnya kegiatan pembangunan yang tepat dan optimal di Provinsi Riau tanpa mengorbankan keselamatan dan produktifitas rakyat serta keberlanjutan jasa alam.
[1] Jikalahari 2005
[2] Makalah Gubernur Propinsi Riau 2006
[3] Kanwil kehutanan propinsi Riau 2000
[4] Data Dan Fakta Pola Pemanfaatan Ruang Provinsi Riau oleh Kabut Riau 2008
[5] Alinea ke 4 pembukaan UUD 1945
Pekanbaru flood maps
7:49 AManda ingin tahu lebih jauh silahkan lihat disini
Jika Permukaan laut naik +1m
http://flood.firetree.net/?ll=0.5577,101.4102&z=3&m=1&t=1
Jika Permukaan laut naik +2m
http://flood.firetree.net/?ll=0.5577,101.4102&z=3&m=2&t=1
Jika Permukaan laut naik +3m
http://flood.firetree.net/?ll=0.5577,101.4102&z=3&m=3&t=1
Jika Permukaan laut naik +4m
http://flood.firetree.net/?ll=0.5577,101.4102&z=3&m=4&t=1
Jika Permukaan laut naik +5m
http://flood.firetree.net/?ll=0.5577,101.4102&z=3&m=5&t=1
Jika Permukaan laut naik +10m
http://flood.firetree.net/?ll=0.5577,101.4102&z=3&m=10&t=1
Hal Mengejutkan Tentang Kritik
1:04 AM"Kritik tak pernah didasari rasa sayang; kritik tak pernah diberikan untuk kebaikan seseorang. Kritik dirancang untuk melemahkan atau menciptakan ketidaknyamanan dan keraguan dalam diri orang yang dikritik."
–Karen Casey, Change Your Mind and Your Life Will Follow
Jika Anda yakin bahwa kritik adalah membangun, bisa jadi Anda masih "termakan" oleh pendapat umum tentang kritik. Pada dasarnya orang suka mengkritik sehingga mencari pembenaran untuk mengkritik yaitu dengan mengatakan bahwa kritik itu membangun. Silahkan simak artikel saya yang lain yang berjudul "Apakah Kritik itu Membangun?"
Dalam artikel tersebut, seorang wanita menyia-nyiakan kemampuan menyanyinya karena kritik. Begitu kritik hilang dalam hidupnya, maka dia menjadi penyanyi tenar. Ada juga orang yang selama 40 tahun hidupnya merasa tidak memiliki keterampilan sama sekali. Mengapa? Karena sejak kecil dia selalu dikritik saat melakukan sesuatu. Ternyata setelah dia menghilangkan pengaruh kritik tersebut, dia sungguh sangat terampil. Dia menyia-nyiakan keterampilannya selama 40 tahun karena kritik.
Mengapa kritik bisa begitu merusak dan menyia-nyiakan potensi diri seseorang? Sebab kritik hanya memfokuskan diri kita kepada hal yang negatif. Saat Anda dikritik, Anda kecewa dan mungkin marah, sambil pikiran Anda fokus kepada apa yang menjadi objek kritikan. Sementara, dalam ilmu pikiran, fokus ditambah emosi sama dengan kenyataan.
Hal ini bisa dijelaskan baik melalui Law of Attraction maupun Psycho-Cybernetics. Menurut Law of Attraction, jika kira fokus pada suatu hal kemudian diringi oleh emosi yang kuat, maka kita akan menarik apa yang kita fokuskan. Begitu juga dijelaskan dalam teori Psycho-Cybernetics, fokus ditambah emosi akan menghidupkan suatu mekanisme dalam tubuh dan pikiran kita untuk mewujudkan apa yang menjadi fokus pikiran kita.
Sekarang kita bisa mengambil kesimpulan, yaitu jangan mengkritik dan jangan biarkan diri Anda dikritik. Jika Anda ingin mengubah atau membangun seseorang, carilah cara lain selain mengkritik. Begitu juga, hindari bergaul dengan orang-orang yang suka mengkritik. Semakin sedikit Anda mendengar kritik, semakin sehat pikiran kita.
Jika terpaksa sering menerima kritik, jangan biarkan pikiran bawah sadar Anda menerima kritik tersebut. Jika Anda membiarkan pikiran bawah sadar Anda menerima kritik, percayalah, akibatnya seperti dihipnotis, secara tidak sadar Anda malah mewujudkan kritikan tersebut. Anda harus memiliki suatu pertahanan dalam pikiran Anda. Pertahanan itu adalah pikiran positif. Anda harus terus-menerus membangun pikiran positif atau pikiran indah.
Surat Cinta Seorang Ilmuwan
6:05 PMArchimedes dan Newton tak akan mengerti Medan magnet yang berinduksi di antara kita Einstein dan Edison tak sanggup merumuskan E=mc2 Ah tak sebanding dengan momen cintaku
Pertama kali bayangmu jatuh tepat di fokus hatiku Nyata, tegak, diperbesar dengan kekuatan lensa maksimum Bagai tetes minyak milikan jatuh di ruang hampa Cintaku lebih besar dari bilangan avogadro…
Walau jarak kita bagai matahari dan Pluto saat aphelium Amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan hatiku Seindah gerak harmonik sempurna tanpa gaya pemulih Bagai kopel gaya dengan kecepatan angular yang tak terbatas
Energi mekanik cintaku tak terbendung oleh friksi Energi potensial cintaku tak terpengaruh oleh tetapan gaya Energi kinetik cintaku = -mv~ Bahkan hukum kekekalan energi tak dapat menandingi hukum kekekalan di antara kita
Lihat hukum cinta kita Momen cintaku tegak lurus dengan momen cintamu Menjadikan cinta kita sebagai titik ekuilibrium yang sempurna Dengan inersia tak terhingga Takkan tergoyahkan impuls atau momentum gaya Inilah resultan momentum cinta kita
SalamIlmuwan
CINTAILAH CINTA
9:53 AMCINTAILAH CINTA
Adalah sesuatu yang menyakitkan ketika kita mencintai seseorang, namun ia tak pernah membalasnya, tetapi yang lebih menyakitkan adalah ketika kita mencintai seseorang sedangkan kita tidak pernah dapat menemukan keberanian untuk mengungkapkan perasaan kita padanya.
Sebuah hal yang menyedihkan dalam hidup ketika kita bertemu dengan seseorang, yang sangat berarti bagi kita, hanya untuk mengetahui pada akhirnya seseorang tersebut tidak ditakdirkan untuk bersama kita, sehingga kita harus dengan berat hati membiarkannya pergi dan berlalu.
Teman terbaik adalah teman dimana ketika kita duduk bersama disebuah ayunan, tanpa ada ucapan sekatapun, dan ketika harus berpisah dengannnya, terasa seolah hal tersebut merupakan percakapan paling menyenangkan yang pernah dilakukan bersama.
Adalah benar bahwa kita takkan pernah tahu apa yang telah kita dapatkan hingga kita kehilangannya. Tetapi adalah benar juga, ketika kita tidak tahu apa yang telah hilang hingga hal tersebut menghampiri kita.
Impikan saja apa yang ingin kita impikan, pergi saja kemanapun kita ingin pergi, jadilah sebagai sosok yang kita inginkan, karena kita hanya memiliki satu buah kehidupan dan satu buah kesempatan untuk dapat melakukan semua hal yang kita inginkan.
Letakkan diri kita sebagai layaknya orang lain, jika kita merasa hal yang kita lakukan akan menyakiti diri kita, hal tersebut mungkin akan menyakiti yang lain pula.
Kata-kata yang terucap tanpa perhitungan mungkin akan menyulut perselisihan, perkataan yang kejam dapat menghancur-kan kehidupan, sebuah kata yang tak tepat mungkin juga mampu menambah beban batin seseorang, dan... sebuah kata yang penuh cinta kasih mungkin dapat menyembuhkan dan memberikan berkah.
Orang yang paling bahagia adalah orang yang tidak merasa selalu membutuhkan semua hal terbaik, mereka hanya berfikir bagaimana menciptakan semua hal menjadi terbaik bagi mereka, yang berlalu dalam hidupnya.
Cinta dimulai dengan sebuah senyum dan berakhir dengan air mata. Ketika kita dilahirkan, kita adalah orang yang menangis, sementara orang-orang disekeliling kita tersenyum bahagia.Ketika kita menanggalkan hidup, maka kita adalah pihak yang tersenyum begitu bahagia... sementara orang disekeliling kita menangis.
kopas from gugling












