Celoteh - Celoteh

PP No 16 Tahun 2004

12:13 AM
Download

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 16 TAHUN 2004
TENTANG
PENATAGUNAAN TANAH
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:
bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undang-undang Nomor 24 Tahun
1992 tentang Penataan Ruang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang
Penatagunaan Tanah;
Mengingat:
1.
Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945;
2.
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria
(Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor
2043);
3.
Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara
Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501);
4.
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);
5.
Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban,
serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang
(Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3660);
6.
Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan Pendayagunaan
Tanah Terlantar (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 51, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3745);
7.
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan
Kewenangan Provinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor
54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);
8.
Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan
atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor
41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4090);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENATAGUNAAN TANAH
Page 2
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1.
Penatagunaan tanah adalah sama dengan pola pengelolaan tata guna tanah yang
meliputi penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah yang berwujud konsolidasi
pemanfaatan tanah melalui pengaturan kelembagaan yang terkait dengan pemanfaatan
tanah sebagai satu kesatuan sistem untuk kepentingan masyarakat secara adil.
2.
Penguasaan tanah adalah hubungan hukum antara orang per orang, kelompok orang,
atau badan hukum dengan tanah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria.
3.
Penggunaan tanah adalah wujud tutupan permukaan bumi baik yang merupakan
bentukan alami maupun buatan manusia.
4.
Pemanfaatan tanah adalah kegiatan untuk mendapatkan nilai tambah tanpa mengubah
wujud fisik penggunaan tanahnya.
5.
Hak atas tanah adalah hak-hak sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor
5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria.
6.
Rencana Tata Ruang Wilayah adalah hasil perencanaan tata ruang berdasarkan aspek
administratif dan atau aspek fungsional yang telah ditetapkan.
7.
Pemerintah adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari
Presiden beserta para Menteri.
8.
Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah Otonom yang lain
sebagai Badan Eksekutif Daerah.
BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 2
Penatagunaan tanah berasaskan keterpaduan, berdayaguna dan berhasilguna, serasi,
selaras, seimbang, berkelanjutan, keterbukaan, persamaan, keadilan dan perlindungan
hukum.
Pasal 3
Penatagunaan tanah bertujuan untuk:
a.
mengatur penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah bagi berbagai kebutuhan
kegiatan pembangunan yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah;
b.
mewujudkan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah agar sesuai dengan
arahan fungsi kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah;
c.
mewujudkan tertib pertanahan yang meliputi penguasaan, penggunaan dan
pemanfaatan tanah termasuk pemeliharaan tanah serta pengendalian pemanfaatan
tanah;
d. menjamin kepastian hukum untuk menguasai, menggunakan dan memanfaatkan tanah
bagi masyarakat yang mempunyai hubungan hukum dengan tanah sesuai dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah yang telah ditetapkan.

BAB III
POKOK-POKOK PENATAGUNAAN TANAH
Pasal 4
1.
Dalam rangka pemanfaatan ruang dikembangkan penatagunaan tanah yang disebut
juga pola pengelolaan tata guna tanah.
2.
Penatagunaan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kegiatan di
bidang pertanahan di Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya.
3.
Penatagunaan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan
berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota.
4.
Penatagunaan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan sesuai
dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten/Kota.
Pasal 5
Penatagunaan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) dilaksanakan melalui
kebijakan penatagunaan tanah dan penyelenggaraan penatagunaan tanah.
BAB IV
KEBIJAKAN PENATAGUNAAN TANAH
Bagian Pertama
Umum
Pasal 6
Kebijakan penatagunaan tanah diselenggarakan terhadap:
(a) bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya baik yang sudah atau belum terdaftar;
(b) tanah negara;
(c) tanah ulayat masyarakat hukum adat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Pasal 7
1.
Terhadap tanah-tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, penggunaan dan
pemanfaatan tanahnya harus sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah.
2.
Kesesuaian penggunaan dan pemanfaatan tanah terhadap Rencana Tata Ruang
Wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan pedoman,
standar dan kriteria teknis yang ditetapkan oleh Pemerintah.
3.
Pedoman, standar dan kriteria teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dijabarkan
lebih lanjut oleh Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kondisi wilayah masing-
masing.
4.
Penggunaan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang tidak sesuai dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah tidak dapat diperluas atau dikembangkan
penggunaannya.
5.
Pemanfaatan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang tidak sesuai dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah tidak dapat ditingkatkan pemanfaatannya.
Page 4
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
Pasal 8
Pemegang hak atas tanah wajib menggunakan dan dapat memanfaatkan tanah sesuai
Rencana Tata Ruang Wilayah, serta memelihara tanah dan mencegah kerusakan tanah.
Bagian Kedua
Penguasaan Tanah
Pasal 9
1.
Penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah tidak mempengaruhi status hubungan hukum
atas tanah.
2.
Penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah tidak mempengaruhi status hubungan hukum
atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 yang di atas atau di bawah tanahnya
dilakukan pemanfaatan ruang.
Pasal 10
1.
Terhadap tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 setelah penetapan Rencana
Tata Ruang Wilayah, penyelesaian administrasi pertanahan dilaksanakan apabila
pemegang hak atas tanah atau kuasanya memenuhi syarat-syarat menggunakan dan
memanfaatkan tanahnya sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah.
2.
Apabila syarat-syarat menggunakan dan memanfaatkan tanah sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) tidak dipenuhi, akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 11
1.
Terhadap tanah dalam kawasan lindung yang belum ada hak atas tanahnya dapat
diberikan hak atas tanah, kecuali pada kawasan hutan.
2.
Terhadap tanah dalam kawasan cagar budaya yang belum ada hak atas tanahnya
dapat diberikan hak atas tanah tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku, kecuali pada lokasi situs.
Pasal 12
Tanah yang berasal dari tanah timbul atau hasil reklamasi di wilayah perairan pantai, pasang
surut, rawa, danau, dan bekas sungai dikuasai langsung oleh Negara.
Bagian Ketiga
Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah
Pasal 13
Page 5
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
1.
Penggunaan dan pemanfaatan tanah di kawasan lindung atau kawasan budidaya harus
sesuai dengan fungsi kawasan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah.
2.
Penggunaan dan pemanfaatan tanah di kawasan lindung sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tidak boleh mengganggu fungsi alam, tidak mengubah bentang alam dan
ekosistem alami.
3.
Penggunaan tanah di kawasan budidaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
boleh diterlantarkan, harus dipelihara dan dicegah kerusakannya.
4.
Pemanfaatan tanah di Kawasan Budidaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
saling bertentangan, tidak saling mengganggu, dan memberikan peningkatan nilai
tambah terhadap penggunaan tanahnya.
5.
Ketentuan penggunaan dan pemanfaatan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) ditetapkan melalui pedoman teknis penatagunaan tanah,
yang menjadi syarat menggunakan dan memanfaatkan tanah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1).
Pasal 14
Dalam hal penggunaan dan pemanfaatan tanah, pemegang hak atas tanah wajib mengikuti
persyaratan yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
Pasal 15
1.
Penggunaan dan pemanfaatan tanah pada pulau-pulau kecil dan bidang-bidang tanah
yang berada di sempadan pantai, sempadan danau, sempadan waduk, dan atau
sempadan sungai, harus memperhatikan :
a.
kepentingan umum;
b.
keterbatasan daya dukung, pembangunan yang berkelanjutan, keterkaitan
ekosistem, keanekaragaman hayati serta kelestarian fungsi lingkungan.
Pasal 16
Apabila terjadi perubahan Rencana Tata Ruang Wilayah, maka penggunaan dan
pemanfaatan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 mengikuti Rencana Tata Ruang
Wilayah yang terakhir.
Pasal 17
1.
Pemanfaatan tanah dapat ditingkatkan apabila tidak mengubah penggunaan tanahnya.
2.
Peningkatan pemanfaatan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
memperhatikan hak atas tanahnya serta kepentingan masyarakat.
Pasal 18
Pemanfaatan tanah dalam kawasan lindung dapat ditingkatkan untuk kepentingan
pendidikan, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan ekowisata
apabila tidak mengganggu fungsi lindung.
Page 6
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
Pasal 19
1.
Kegiatan dalam rangka pemanfaatan ruang di atas dan di bawah tanah yang tidak
terkait dengan penguasaan tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) dapat
dilaksanakan apabila tidak mengganggu penggunaan dan pemanfaatan tanah yang
bersangkutan.
2.
Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang mengganggu pemanfaatan tanah
harus mendapat persetujuan pemegang hak atas tanah.
3.
Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilaksanakan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 20
Penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah yang tidak sesuai dengan Rencana Tata
Ruang Wilayah disesuaikan melalui penyelenggaraan penatagunaan tanah.
BAB V
PENYELENGGARAAN PENATAGUNAAN TANAH
Bagian Pertama
Umum
Pasal 21
Penyelenggaraan penatagunaan tanah dilakukan terhadap tanah-tanah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6.
Bagian Kedua
Pelaksanaan
Pasal 22
1.
Dalam rangka menyelenggarakan penatagunaan tanah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 23 dilaksanakan kegiatan yang meliputi :
a.
pelaksanaan inventarisasi penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah;
b.
penetapan perimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan penguasaan,
penggunaan, dan pemanfaatan tanah menurut fungsi kawasan;
c.
penetapan pola penyesuaian penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah
dengan Rencana Tata Ruang Wilayah.
2.
Kegiatan penatagunaan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disajikan dalam
peta dengan skala lebih besar dari pada skala peta Rencana Tata Ruang Wilayah yang
bersangkutan.
Pasal 23
1.
Pelaksanaan inventarisasi penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf a meliputi:
(a) pengumpulan dan pengolahan data penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan
tanah, kemampuan tanah, evaluasi tanah serta data pendukung;
Page 7
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
(b) penyajian data berupa peta dan informasi penguasaan, penggunaan dan
pemanfaatan tanah, kemampuan tanah, evaluasi tanah serta data pendukung;
(c) penyediaan dan pelayanan data berupa peta dan informasi penguasaan,
penggunaan dan pemanfaatan tanah, kemampuan tanah, evaluasi tanah, serta
data pendukung.
2.
Data dan informasi bidang pertanahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
sebagai bahan masukan dalam penyusunan dan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah.
3.
Kegiatan penetapan perimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan penguasaan,
penggunaan dan pemanfaatan tanah menurut fungsi kawasan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 22 ayat (1) huruf b meliputi :
(a) penyajian neraca perubahan penggunaan dan pemanfaatan tanah pada Rencana
Tata Ruang Wilayah;
(b) penyajian neraca kesesuaian penggunaan dan pemanfaatan tanah pada Rencana
Tata Ruang Wilayah;
(c) penyajian dan penetapan prioritas ketersediaan tanah pada Rencana Tata Ruang
Wilayah.
4.
Pelaksanaan pola penyesuaian penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah
dengan Rencana Tata Ruang Wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1)
huruf c dilakukan melalui :
(a) penataan kembali;
(b) upaya kemitraan;
(c) penyerahan dan pelepasan hak atas tanah kepada negara atau pihak lain dengan
penggantian sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
5.
Penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilaksanakan dengan
mempertimbangkan:
(a) kebijakan penatagunaan tanah;
(b) hak-hak masyarakat pemilik tanah;
(c) investasi pembangunan prasarana dan sarana;
(d) evaluasi tanah.
6.
Dalam pelaksanaan penyesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan
dengan melibatkan peranserta masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
7.
Tata cara pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (3) dan
ayat (4) diatur dalam berbagai pedoman, standar dan kriteria teknis yang ditetapkan
oleh Pemerintah.
8.
Pedoman, standar dan kriteria teknis pelaksanaan kegiatan penatagunaan tanah
sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dijabarkan lebih lanjut oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota.
Pasal 24
1.
Dalam rangka pelaksanaan pola penyesuaian penguasaan, penggunaan dan
pemanfaatan tanah, Pemerintah Kabupaten/Kota menerbitkan pedoman teknis.
2.
Tata cara penerbitan pedoman teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB VI
PEMBINAAN DAN PENGENDALIAN
Page 8
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
Pasal 25
1.
Dalam rangka pembinaan dan pengendalian penyelenggaraan penatagunaan tanah,
Pemerintah melaksanakan pemantauan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan
tanah.
2.
Pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan melalui
pengelolaan sistem informasi geografi penatagunaan tanah.
Pasal 26
1.
Pembinaan atas penyelenggaraan penatagunaan tanah dilakukan oleh Pemerintah.
2.
Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pemberian pedoman,
bimbingan, pelatihan, dan arahan.
Pasal 27
1.
Pengendalian penyelenggaraan penatagunaan tanah meliputi pengawasan dan
penertiban.
2.
Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan Pemerintah dengan
cara supervisi dan pelaporan.
3.
Penertiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Pasal 28
1.
Pembinaan dan pengendalian penatagunaan tanah terhadap pemegang hak atas
tanah diselenggarakan pula dengan pemberian insentif dan pengenaan disinsentif.
2.
Insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada pemegang hak atas
tanah yang secara sukarela melakukan penyesuaian penggunaan tanah.
3.
Disinsentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan kepada pemegang hak
atas tanah yang belum melaksanakan penyesuaian penggunaan tanahnya.
4.
Bentuk-bentuk insentif dan disinsentif ditetapkan sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.
Pasal 29
Pemerintah melaksanakan penataan kembali terhadap pemegang hak atas tanah dari
golongan ekonomi lemah.
BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 30
Page 9
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini, semua peraturan pelaksanaan yang
berkaitan dengan penatagunaan tanah tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan
Peraturan Pemerintah ini.
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 31
Peraturan Pemerintah ini berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal, 10 Mei 2004
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
ttd
MEGAWATI SOEKARNOPUTRI
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal, 10 Mei 2004
SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA
ttd
BAMBANG KESOWO
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 45
Salinan sesuai dengan aslinya
SEKRETARIAT KABINET RI
Kepala Biro Peraturan
Perundang-undangan II,
ttd
Page 10
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
Edy Sudibyo
PENJELASAN
AT AS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 16 TAHUN 2004
TENTANG
PENATAGUNAAN TANAH
I.
UMUM
Page 11
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
Tanah merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa bagi bangsa Indonesia yang
dikuasai oleh Negara untuk kepentingan hajat hidup orang banyak baik yang telah
dikuasai atau dimiliki oleh orang seorang, kelompok orang termasuk masyarakat
hukum adat dan atau badan hukum maupun yang belum diatur dalam hubungan
hukum berdasarkan peraturan perundangan-undangan. Berbagai bentuk hubungan
hukum dengan tanah yang berwujud hak-hak atas tanah memberikan wewenang
untuk menggunakan tanah sesuai dengan sifat dan tujuan haknya berdasarkan
persediaan, peruntukan, penggunaan, dan pemeliharaannya.
Tanah adalah unsur ruang yang strategis dan pemanfaatannya terkait dengan
penataan ruang wilayah. Penataan ruang wilayah, mengandung komitmen untuk
menerapkan penataan secara konsekuen dan konsisten dalam kerangka kebijakan
pertanahan yang berlandaskan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. Sehubungan dengan itu dan atas perintah
Pasal 16 Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, maka
dalam rangka pemanfaatan ruang perlu dikembangkan penatagunaan tanah yang
disebut juga pola pengelolaan penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah.
Sesuai dengan penjelasan Pasal 30 Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang
Penataan Ruang, ketentuan Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 52 Undang-undang Nomor
5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, dan sejalan dengan
ketentuan dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang,
untuk pedoman pelaksanaannya seperti dimaksud dalam undang-undang tersebut
perlu dibuat Peraturan Pemerintah tentang Penatagunaan Tanah sebagai subsistem
penataan ruang.
Peraturan Pemerintah tentang Penatagunaan Tanah ini meliputi kebijakan
penatagunaan tanah dan penyelenggaraan penatagunaan tanah.
Kebijakan penatagunaan tanah meliputi penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan
tanah di kawasan lindung dan kawasan budidaya sebagai pedoman umum
penatagunaan tanah di daerah.
Kegiatan di bidang pertanahan merupakan satu kesatuan dalam siklus agraria, yang
tidak dapat dipisahkan, meliputi pengaturan penguasaan dan pemilikan tanah,
penatagunaan tanah, pengaturan hak-hak atas tanah, serta pendaftaran tanah.
Penyelenggaraan penatagunaan tanah di kabupaten/kota meliputi:
a.
penetapan kegiatan penatagunaan tanah;
b.
pelaksanaan kegiatan penatagunaan tanah.
Dalam rangka penetapan kegiatan penatagunaan tanah dilakukan inventarisasi
penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah; penetapan neraca penguasaan,
penggunaan, dan pemanfaatan tanah; penetapan pola penyesuaian penguasaan,
penggunaan dan pemanfaatan tanah dengan Rencana Tata Ruang Wilayah serta
kajian kondisi fisik wilayah. Selain menjadi bahan utama dalam rangka penyusunan
pola pengelolaan penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah, hasil
inventarisasi yang disajikan dalam peta dengan tingkat ketelitian berskala lebih
besar dari peta Rencana Tata Ruang Wilayah dikelola dalam suatu sistem informasi
manajemen pertanahan antara lain melalui sistem informasi penatagunaan tanah.
Penyesuaian penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah dapat dilaksanakan
melalui penataan kembali, upaya kemitraan, penyerahan dan pelepasan hak atas
tanah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Page 12
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
Dalam rangka penyelenggaraan penatagunaan tanah dilaksanakan pembinaan dan
pengendalian.
Pembinaan dilaksanakan melalui pemberian pedoman, bimbingan, pelatihan, dan
arahan. Sedangkan pengendalian dilaksanakan melalui pengawasan yang
diwujudkan melalui supervisi, pelaporan, dan penertiban.
Penatagunaan tanah merujuk pada Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota
yang telah ditetapkan. Bagi Kabupaten/Kota yang belum menetapkan Rencana Tata
Ruang Wilayah, penatagunaan tanah merujuk pada rencana tata ruang lain yang
telah ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan untuk daerah bersangkutan.
II.
PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup jelas
Pasal 2
Yang dimaksud dengan keterpaduan adalah bahwa penatagunaan tanah
dilakukan untuk mengharmonisasikan penguasaan, penggunaan dan
pemanfaatan tanah.
Yang dimaksud dengan berdayaguna dan berhasilguna adalah bahwa
penatagunaan tanah harus dapat mewujudkan peningkatan nilai tanah yang
sesuai dengan fungsi ruang.
Yang dimaksud dengan serasi, selaras dan seimbang adalah bahwa
penatagunaan tanah menjamin terwujudnya keserasian, keselarasan dan
keseimbangan antara hak dan kewajiban masing-masing pemegang hak atas
tanah atau kuasanya sehingga meminimalkan benturan kepentingan antar
penggunaan atau pemanfaatan tanah.
Yang dimaksud dengan berkelanjutan adalah bahwa penatagunaan tanah
menjamin kelestarian fungsi tanah demi memperhatikan kepentingan antar
generasi.
Yang dimaksud dengan keterbukaan adalah bahwa penatagunaan tanah dapat
diketahui seluruh lapisan masyarakat.
Yang dimaksud dengan persamaan, keadilan dan perlindungan hukum adalah
bahwa dalam penyelenggaraan penatagunaan tanah tidak mengakibatkan
diskriminasi antar pemilik tanah sehingga ada perlindungan hukum dalam
menggunakan dan memanfaatkan tanah.
Pasal 3
Cukup jelas
Pasal 4
Ayat (1)
Cukup jelas
Page 13
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
Ayat (2)
Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya adalah sebagaimana
dimaksud dalam Peraturan Pemerintah tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional.
Kawasan Lindung meliputi: kawasan yang memberikan perlindungan
kawasan bawahannya yang mencakup kawasan hutan lindung,
kawasan bergambut, kawasan resapan air; kawasan perlindungan
setempat yang mencakup sempadan pantai, sempadan sungai,
kawasan sekitar danau/waduk, kawasan sekitar mata air, kawasan
terbuka hijau termasuk di dalamnya hutan kota; kawasan suaka alam
yang mencakup kawasan cagar alam, suaka margasatwa; kawasan
pelestarian alam yang mencakup taman nasional, taman hutan raya,
taman wisata alam; kawasan cagar budaya; kawasan rawan bencana
alam yang mencakup antara lain kawasan rawan letusan gunung api,
gempa bumi, tanah longsor, serta gelombang pasang dan banjir;
kawasan lindung lainnya mencakup taman buru, cagar biosfir, kawasan
perlindungan plasma nutfah, kawasan pengungsian satwa dan kawasan
pantai berhutan bakau.
Kawasan Budidaya meliputi: kawasan hutan produksi yang mencakup
kawasan hutan produksi terbatas, kawasan hutan produksi tetap,
kawasan hutan yang dapat dikonversi; kawasan hutan rakyat; kawasan
pertanian yang mencakup kawasan pertanian lahan basah, kawasan
pertanian lahan kering, kawasan tanaman tahunan/perkebunan,
kawasan peternakan, kawasan perikanan; kawasan pertambangan yang
mencakup golongan bahan galian strategis, golongan bahan galian vital
atau golongan bahan galian yang tidak termasuk kedua golongan
tersebut; kawasan peruntukan industri; kawasan pariwisata; dan
kawasan permukiman.
Kawasan lindung dan Kawasan Budidaya yang terletak di wilayah
perbatasan dengan negara
tetangga, penatagunaan tanahnya
mempertimbangkan aspek pertanahan dan keamanan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ayat (3)
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota menjadi pedoman bagi
Pemerintah Daerah untuk menetapkan lokasi kegiatan pembangunan
dalam memanfaatkan ruang serta dalam menyusun program
pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah
tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam pemberian rekomendasi
pengarahan pemanfaatan ruang, sehingga pemanfaatan ruang dalam
pelaksanaan pembangunan selalu sesuai dengan Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten/Kota yang sudah ditetapkan.
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan jangka waktu adalah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 22 Undang-undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan
Ruang.
Page 14
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
Penatagunaan tanah diselenggarakan secara bertahap melalui
penetapan penyesuaian penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan
tanah yang akan dilakukan oleh Pemerintah, instansi yang membidangi
pertanahan di Kabupaten/Kota dan masyarakat, baik secara sendiri-
sendiri maupun bersama, sesuai dengan jangka waktu Rencana Tata
Ruang Wilayah yang telah ditetapkan.
Pasal 5
Cukup jelas
Pasal 6
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Tanah Negara adalah tanah yang langsung dikuasai oleh Negara yang bukan
tanah ulayat.
Huruf c
Cukup jelas
Pasal 7
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Yang dimaksud dengan tidak dapat diperluas atau dikembangkan
penggunaannya adalah wujud kegiatan secara alami maupun buatan yang
telah ada dan tidak sesuai dengan peruntukannya, misalnya perluasan industri
di dalam kawasan pertanian lahan basah (beririgasi teknis).
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan tidak dapat ditingkatkan pemanfaatannya adalah
kegiatan yang tidak dapat ditingkatkan nilai tambahnya, misalnya peningkatan
perumahan menjadi perdagangan di kawasan permukiman.
Pasal 8
Yang dimaksud dengan wajib menggunakan tanah adalah pemegang hak atas tanah
mematuhi syarat-syarat penggunaan dan pemanfaatan
tanah
yang
telah
ditetapkan.Yang dimaksud dengan dapat memanfaatkan tanah adalah pemegang
hak atas tanah dapat meningkatkan nilai tambah dengan cara melakukan
kegiatan lain yang tidak mengganggu penggunaan tanahnya, misalnya memanfaatkan
sawah untuk mina padi (budidaya ikan di sawah).
Memelihara tanah adalah upaya untuk melindungi fungsi tanah misalnya kemampuan
tanah terhadap tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh
suatu kegiatan, agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk
hidup lain, misalnya upaya pemulihan kembali tanah yang rusak, upaya konservasi
tanah pertanian, upaya rehabilitasi tanah bekas galian pertambangan dan
sebagainya.
Page 15
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
Kerusakan tanah adalah keadaan tanah yang tidak dapat lagi dimanfaatkan sesuai
dengan fungsi kawasan sebagai akibat tindakan yang secara langsung atau tidak
langsung menimbulkan perubahan terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya.
Pasal 9
Ayat (1)
Penetapan Rencana tata Ruang Wilayah tidak mempengaruhi hubungan
hukum atas tanah yang telah ada haknya baik yang belum maupun yang telah
terdaftar, tanah Negara, serta tanah ulayat masyarakat hukum adat sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sebelum
adanya penetapan Rencana tata Ruang Wilayah.
Ayat (2)
Pemanfaatan ruang di atas atau di bawah tidak mempengaruhi hubungan
hukum atas tanah yang penggunaan dan pemanfaatannya tidak terkait dengan
pemanfaatan ruang di atas dan di bawah tersebut dengan syarat penggunaan
dan pemanfaatannya sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan tidak
mengganggu pemanfaatan ruang di atas dan atau di bawahnya.
Pemegang
hak atas tanah dalam pemanfaatan hak atas tanahnya
harus sesuai dengan sifat dan tujuan haknya serta tidak bertentangan dengan
peraturan pemanfaatan ruang di atas dan atau di bawahnya. Contoh
pemanfaatan ruang di atas tanah adalah transmisi energi listrik melalui jaringan
tegangan tinggi; pemanfaatan ruang bawah tanah adalah jaringan jalan dan
atau kereta api bawah tanah (subway).
Pasal 10
Ayat (1)
Syarat-syarat menggunakan dan memanfaatkan tanah, yaitu dalam bentuk
pedoman teknis penatagunaan tanah yang menjadi bagian tidak terpisahkan
dari penyelesaian administrasi pertanahan, antara lain pemindahan hak,
peralihan hak, peningkatan hak, penggabungan, dan pemisahan hak atas
tanah.
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 11
Ayat (1)
Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh
Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. Hak
atas tanah pada kawasan hutan diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Ayat (2)
Hak atas tanah tertentu adalah hak atas tanah dengan jangka waktu dan
persyaratan tertentu. Salah satu bentuk persyaratan tertentu adalah ketentuan
sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang benda
cagar budaya.
Pasal 12
Tanah timbul adalah daratan yang terbentuk secara alami maupun buatan karena
proses pengendapan di sungai, danau, pantai dan atau pulau timbul, serta
penguasaan tanahnya dikuasai negara.
Reklamasi adalah pengurukan wilayah perairan guna memperluas ruang daratan,
penggunaan dan pemanfaatan tanahnya harus sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah.
Page 16
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
Pasal 13
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan tidak mengubah bentang alam antara lain tidak
melakukan cut and fill, menutup dan membelokkan aliran sungai.
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Cukup jelas
Ayat (5)
Pedoman teknis penatagunaan tanah bertujuan untuk menciptakan
penggunaan dan pemanfaatan tanah yang lestari, optimal, serasi, dan
seimbang (LOSS) di wilayah perdesaan, serta aman, tertib, lancar, dan sehat
(ATLAS) di wilayah perkotaan, yang menjadi persyaratan penyelesaian
administrasi pertanahan sebagaimana dimaksud pada Pasal 10 ayat (1).
Pasal 14
Persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal ini antara lain pedoman teknis
penatagunaan tanah, persyaratan mendirikan bangunan, persyaratan memanfaatkan
bangunan, persyaratan dalam Analisis mengenai Dampak Lingkungan, persyaratan
usaha, dan ketentuan lainnya yang diatur dalam peraturan perundangan-undangan.
Pasal 15
Pulau kecil adalah pulau yang luasan dan jumlah penduduknya sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pada hakekatnya pulau kecil dan
kawasan pesisir khususnya yang berkaitan dengan penguasaan, penggunaan dan
pemanfaatan di bidang-bidang tanah yang berada disepanjang pantai memiliki
keunikan tersendiri baik dari segi kegiatan sosial, ekonomi, lingkungan dan sumber
daya alam lainnya.
Pasal 16
Cukup jelas
Pasal 17
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 18
Yang dimaksud dengan kepentingan pendidikan, penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi adalah antara lain sebagai laboratorium alam, transmisi
energi dan telekomunikasi.
Yang dimaksud dengan ekowisata adalah antara lain kegiatan wisata alam dan wisata
budaya.
Page 17
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
Pasal 19
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan mengganggu adalah sebagaimana yang dimaksud
dalam studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan persetujuan pemegang hak atas tanah yang terkait
adalah pemegang hak atas tanah tidak keberatan terhadap pemanfaatan ruang
di atas dan atau di bawah tanah karena pemegang hak atas tanah mempunyai
kepentingan terhadap pemanfaatan ruang tersebut.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku antara
lain yang mengatur pertambangan dan rumah susun.
Pasal 20
Penyesuaian adalah kegiatan pemegang hak atas tanah atau kuasanya untuk
melakukan penyesuaian, baik secara swadaya, kerjasama, dan atau penyerahan hak
atas tanahnya pada pihak lain, agar penggunaan dan pemanfaatan bidang tanahnya
sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah.
Pasal 21
Penyelenggaraan penatagunaan tanah meliputi penetapan rencana kegiatan dan
pelaksanaan kegiatan penatagunaan tanah.
Pasal 22
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Penetapan perimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan
penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah menurut fungsi
kawasan disusun dalam bentuk Neraca Penatagunaan Tanah.
Huruf c
Pola penyesuaian yang dimaksud berisikan arahan kegiatan dan
langkah-langkah yang perlu dilaksanakan bagi pemegang hak atas
tanah atau kuasanya untuk menggunakan dan memanfaatkan tanah
sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan peta skala lebih besar adalah sebagaimana diatur
dalam peraturan perundang-undangan tentang tingkat ketelitian peta untuk
penataan ruang wilayah.
Pasal 23
Ayat (1)
Huruf a
Pengumpulan dan pengolahan data adalah pembuatan peta kerja,
survei dan pemetaan, komputerisasi dan analisa.
Kemampuan tanah meliputi unsur-unsur fisik tanah antara lain
kemiringan tanah, kedalaman tanah, tekstur tanah, drainase, erosi dan
faktor pembatas tanah lainnya.
Evaluasi tanah adalah penilaian sifat-sifat fisik dan lingkungan tanah
terhadap rencana penggunaan dan pemanfaatan tanah, antara
Page 18
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
lain penilaiankecocokan pertanian, perumahan, industri dalam rangka
upaya penyesuaian penggunaan dan pemanfaatan tanah terhadap
Rencana Tata Ruang Wilayah.
Data pendukung antara lain topografi, kependudukan, tenaga kerja, dan
pendapatan per kapita.
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Pelayanan data dan informasi antara lain katalog/indeks dan tata cara
pelayanan sebagaimana dimaksud Peraturan Pemerintah Nomor 46
Tahun 2002 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
Yang Berlaku Pada Badan Pertanahan Nasional.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Huruf a
Cukup jelas
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Ketersediaan tanah adalah perimbangan antara penggunaan dan
pemanfaatan tanah serta penguasaan tanah pada fungsi kawasan yang
memberikan gambaran tentang peluang dan kendala kegiatan
pembangunan oleh pemerintah dan masyarakat.
Ayat (4)
Huruf a
Penataan kembali antara lain berupa konsolidasi tanah, relokasi, tukar-
menukar dan peremajaan kota.
Huruf b
Upaya kemitraan adalah usaha yang dilakukan oleh masyarakat pemilik
tanah, baik swadaya maupun bekerjasama dengan pihak lain, untuk
mencapai tujuan bersama dengan hak dan kewajiban yang diatur
bersama.
Huruf c
Penyerahan dan pelepasan hak atas tanah adalah antara lain hibah, jual
beli, tukar menukar dan bentuk-bentuk lain yang sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ayat (5)
Huruf a
Kebijakan penatagunaan tanah adalah sebagaimana tercakup dalam
Bab IV Peraturan Pemerintah ini dan kebijakan pertanahan nasional.
Huruf b
Cukup jelas
Huruf c
Sebagai contoh investasi pembangunan sarana dan prasarana di
kawasan perkotaan dan perdesaan antara lain adalah jaringan jalan dan
irigasi.
Huruf d
Cukup jelas
Page 19
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
Ayat (6)
Peranserta masyarakat adalah sebagaimana yang dimaksud dalam peraturan
perundang-undangan tentang pelaksanaan hak dan kewajiban serta bentuk
dan tata cara peranserta masyarakat dalam penataan ruang.
Ayat (7)
Cukup jelas
Ayat (8)
Cukup jelas
Pasal 24
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Pasal 25
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Pengelolaan sistem informasi geografi penatagunaan tanah adalah
standarisasi data, sistem, infrastruktur, komunikasi data atau pertukaran data
antara pusat, provinsi dan kabupaten/kota.
Pasal 26
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan pemerintah adalah sebagaimana dimaksud dalam
peraturan perundang-undangan tentang Pemerintahan Daerah.
Ayat (2)
Pedoman, bimbingan, pelatihan dan arahan adalah sebagaimana dimaksud
dalam peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah, dan
peraturan perundang-undangan tentang pembinaan dan pengawasan atas
penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Pasal 27
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Supervisi dan pelaporan adalah sebagaimana yang dimaksud dalam peraturan
perundang-undangan tentang pemerintahan daerah dan peraturan perundang-
undangan tentang pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan
pemerintahan daerah.
Ayat (3)
Penertiban adalah usaha untuk mengambil tindakan administratif agar
penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan tanah sesuai dengan Rencana
Tata Ruang Wilayah.
Pasal 28
Ayat (1)
Perangkat insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan rangsangan
terhadap kegiatan yang sesuai dengan tujuan penatagunaan tanah.
Page 20
D:/Datafile2002/Undang-2/PP/2004/PP_16_2004_Penatagunaan Tanah.doc (Sri PC 7/20/20043:26 PM )
Disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan membatasi atau mengurangi
kegiatan yang tidak sejalan dengan tujuan penatagunaan tanah, misalnya
antara lain dalam bentuk peninjauan kembali hak atas tanah, dan pengenaan
pajak yang tinggi.
Peninjauan kembali hak atas tanah tersebut didasarkan pada ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam peraturan pemerintah tentang penertiban dan
pendayagunaan tanah terlantar.
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Cukup jelas
Ayat (4)
Bentuk-bentuk insentif dan disinsentif tidak boleh mengurangi hak penduduk
sebagai warganegara untuk memperoleh harkat dan martabat yang sama, hak
memperoleh dan mempertahankan hidupnya.
Pasal 29
Yang dimaksud dengan penataan kembali adalah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 23 ayat (4) huruf a.
Pasal 30
Cukup jelas
Pasal 31
Cukup jelas
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4385
Read On 0 comments

Global Mapper User's Manual

10:15 PM

Global Mapper User's Manual
Download Offline Copy
If you would like to have access to the Global Mapper manual while working offline, click here to download the manual web pages to your local hard drive. To use the manual offline, unzip the downloaded file, then double-click on the Help_Main.html file from Windows Explorer to start using the manual. If you would like context-sensitive help from Global Mapper to use the help files that you have downloaded rather than the online user's manual, create a Help subdirectory under the directory in which you installed Global Mapper (by default this will be C:\Program Files\GlobalMapper8) and unzip the contents of the zip file to that directory.
Table of Contents
ABOUT THIS MANUAL
System Requirements
Download and Installation
Registration
MENUBAR AND TOOLBAR
File Menu
Open Data File(s) Command
Open Generic ASCII Text File(s) Command
Open All Files in a Directory Tree
Open ECW File from the Web Command
Unload All Command
Create New Map Catalog Command
Download Data from the Web Command
Download TerraServer Imagery/Topo Maps
Load Workspace Command
Save Workspace Command
Save Workspace As Command
Run Script Command
Capture Screen Contents to Image Command
Export Global Mapper Package File
Export Raster and Elevation Data
Export Vector Data
Batch Convert/Reproject
Generate Contours Command
Rectify (Georeference) Imagery Command
Print Command
Print Preview Command
Print Setup Command
Exit Command
View Menu
Toolbars
Status Bar
3D View
Background Color
Center on Location
Full View
Zoom In
Zoom In Micro
Zoom Out
Zoom Out Micro
Zoom To Scale
Save Current View
Restore Last Saved View
Tools Menu
Zoom
Pan (Grab-and-Drag)
Measure
Feature Info
Path Profile/LOS (Line of Sight)
View Shed Analysis
Digitizer
Creating New Features
Editing Existing Features
Snapping to Existing Features When Drawing
Displaying Additional Feature Information
Control Center
Configure
Search Menu
GPS Menu
Start Tracking GPS
Stop Tracking GPS
Keep the Vessel On-Screen
Mark Waypoint
Vessel Color
Vessel Size
Setup...
Information...
Clear Tracklog
Record Tracklog
Save Tracklog
Help Menu
Online Help
FAQ
User's Group
Register Global Mapper
About Global Mapper
OVERLAY CONTROL CENTER
Currently Opened Overlays
Metadata
Options
Shapefile Data Options
Vector Data Options
Raster Data Options
Elevation Data Options
Show/Hide Overlay(s)
Close Overlay(s)
LOADING FILES
Loading Multiple Files
Projections and Datums
CHANGE DISPLAY CHARACTERISTICS
General Options
Vector Display Options
Area Styles
Line Styles
Point Styles
Vertical Options
Shader Options
Projection Options
Read On 0 comments

Manual Mapinfo (Indonesia)

11:47 PM
Read On 2 comments

Nilai Jual dan pasar Karbon

7:54 PM
Beberapa waktu yang lalu ada diskusi tentang perdagangan karbon, berhubung bacaan tentang hal ini juga agak kurang, maka setelah difikir2 memang terjadi ketidak adilan dalam perdagangan karbon ini kalau jaman dulu ada penjajahan fisik, jaman sekarang ada penjajahan ekonomi maka dimasa yang akan datang akan ada penjajahan karbon. Untuk itu sebelum kita dijajah lagi maka saya titip pesan buat kawan2 yang berjuang di bidang REDD, UNFCC maupun IPCC atau apapunlah itu namanya untuk menyampaikan ide paling cerdas ini di masing2 pembahasan baik itu REDD, UNFCC, IPCC maupun COP, tentunya kalau kawan terlibat dalam pembahasan itu, kalau tidak mungkin kita bisa jadikan celoteh2 di kedai kopi dan kalau seluruh kedai kopi di indonesia sepakat dengan hal ini maka justru akan menjadi Cikal bakal Revolusi Perdagangan Karbon nasional.

Ilustrasi:
Satu keluarga yang terdiri dari 5 orang: 1bu,ayah dan 2 orang anak, 10 ekor ayam, 2 ekor kambing, 1 ekor kerbau, 1 hektar sawah, 2 hektar kebun karet, 5 batang pohon durian, 3 batang pohon mangga dan punya satu unit angkutan kota.
Misalkan:
pernapasan 1 orang diemisikan karbon 1 Ton/tahun, Pernapasan 1 ekor ayam diemisikan karbon 0,1 Ton/Tahun, Pernapasan 1 ekor kambing diemisikan karbon 0,5 Ton/Tahun, Fotosintesis 1 hektar sawah menyerap karbon 50 ton/tahun, Fotosintesis 1 hektar kebun karet menyerap karbon 200 ton/tahun, Fotosintesis 1 batang pohon durian menyerap karbon 2 ton/tahun, Fotosintesis 1 batang pohon mangga , menyerap karbon 1 ton/tahun, emisi angkutan kota 200 ton/tahun
Maka:
Emisi Karbon Keluarga A adalah:
1. Pernapasan anggota keluarga 1 ton X 5 orang = 5 ton
2. Pernafasan ayam 0,1 X 10 ekor = 1 ton
3. Pernafasan kambing 0,5 X 2 = 1 ton
4. emisi angkutan kota = 200 ton
emisi karbon = 5 + 1 + 1 + 200 = 252 ton/tahun
Penyerapan karbon keluarga A
1. fotosintesis sawah 50 ton X 1 ha = 50 ton
2. fotosintesis kebun karet 200 ton X 2 ha = 400 ton
3. fotosintesis pohon durian 2 ton X 5 batang = 10 ton
4. fotosintesis pohon mangga 1 ton X 3 batang = 3 ton
penyerapan karbon = 50 + 400 + 10 + 3 = 463 ton
Maka Total emisi karbon keluarga a = emisi karbon - penyerapan karbon = 252 - 463 = - 211 ton
ini artinya pada tahun itu keluarga a melakukan emisi karbon negatif (menyerap karbon) sebanyak 211 ton, Jika harga karbon dipasar gelap pada tahun itu sebesar $40 per ton maka keluarga bisa menjual karbon ini seharga $ 844 pada tahun itu.Jika pada tahun bersangkutan tidak ada pembeli yang mau membeli karbon milik keluarga A maka karbon sebesar 211 ton ini bisa disimpan atau didepositokan di bank karbon dan keluarga A bisa menjual karbon ini apabila harganya cukup bagus.
Pada tahun berikutnya, kebijakan keluarga A berubah dengan menebang seluruh pohon karet yang ada dan membuat peternakan sapi, sehingga Emisi yang dihasilkan juga berubah dan ternyata setelah dihitung berubah menjadi emisi positif sebesar 500 ton, sedangkan harga karbon pada tahun itu di pasar gelap justru naik menjadi $80 per ton. maka keluarga A harus membeli carbon ke pasar gelap seharga 500 X 80 = $40000. Disamping membayar tunai karbon pada tahun ini keluarga A dapat pula memakai deposito karbon yang ada di bank untuk membayarnya maka Keluarga A harus membayar adalah (Emisi karbon tahun ini - deposito karbon tahun lalu) X harga karbon = (500-211) X 80 = $23120
Di kemudian hari nanti ketika carbon sudah go publik, maka carbon bisa menjadi sebuah nilai tukar yang penting utama bahkan bisa mengalahkan nilai tukar emas. dan akan bermunculanlah pialang2 carbon
Hal ini tentu akan sangat menguntungkan para petani kita yang punya kebun yang luas, orang2 kampung yang arif dan bijaksana yang selama ini menjaga sumberdaya alam ini tampa meminta bayaran.
Hitungan2 seperti ini kemudian dilakukan di tingkatan RT, RW, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi maupun negara, sehingga pengawasannya menjadi mudah dan penegakan hukumnya juga gampang
Misalnya:
Bila satu orang atau satu keluarga sudah menunggak karbon selama 3 tahun berturut2 dan berdasarkan penilaian auditor dia tidak akan bisa lagi membayar hutang carbonnya maka keluarga tersebut harus dibunuh karena kalau dia hidup akan mengemisikan karbon lebih banyak lagi.
Aturan itu juga berlaku untuk tingkat kecamatan kabupaten dan provinsi dan bisa dipastkan nggak ada orang yang berani menunggak karbon dan pasti semua orang punya hobi bertani dan menanam pohon. karena pada waktu itu pohon itu sudah sama nilainya dengan harga emas yang ada sekarang.
Dampak yang ditimbulkan:
Setiap orang dikota akan berlomba lomba kembali ke desa dan menanam pohon, pertanian akan jadi idola, Jumlah kendaraan pribadi akan berkurang karena orang takut pada hutang karbon dan berganti dengan sistim transportasi massal. Kemacetan tidak ada lagi karena kendaraan akan dipakai seperlunya saja. Distribusi penduduk antara kota dan desa jadi berimbang.
Read On 1 comments

Pencuri Negeri Sendiri

7:25 PM

Mungkin kita terlalu lama dijajah Belanda yang konon ada dua periode, periode pertama adalah diduduki oleh VOC yang notabene adalah perusahaan swasta dan ketika VOC bangkrut karena dikelola dengan sangat korup, kemudian kita diduduki oleh pemerintah kerajaan Belanda. Kondisi mungkin menjadi lebih baik pada periode kedua ini, namun hingga saat ini banyak sekali aturan dan peraturan yang masih memperlihatkan suatu sikap yang memandang rakyat sebagai rakyat yang terpisah dari Pemerintah sebagai sebuah kekuasaan mutlak yang mengatur seluruh kekayaan negara untuk kepentingannya dan bukan untuk kepentingan rakyat.

Padahal orang-orang pemerintahan itu hakekatnya ya rakyat juga. Mereka hanyalah mengelola kebutuhan-kebutuhan sosial masyarakat negeri ini, sementara kebutuhan-kebutuhan yang bersifat komersial bisa diadakan sendiri oleh masyarakat untuk saling mengisi. Dari kegiatan komersial inilah sebagian disisihkan untuk pemenuhan kebutuhan sosial yang dikelola melalui mekanisme pajak.

Ketika pemahaman dasar hidup bernegara ini bias, maka konsekwensinya rakyat seperti berhadapan dengan negara. Rakyat akan selalu berupaya merebut yang bukan haknya untuk sekedar makan, berteduh bahkan untuk memperkaya diri. Pertempuran antara rakyat dan pemerintah terjadi hampir disemua lini. Mulai dari hutan-hutan hingga ditengah kota-kota besar. Menjadi lebih parah lagi ketika Pemerintah memberikan hak-hak pengelolaan kekayaan negara yang seharusnya menjadi milik rakyat pada pengusaha-pengusaha multinasional. Rakyat benar-benar dipandang sebelah mata sebagai suatu potensi yang sebenarnya merupakan kekayaan negeri ini.

Dalam pandangan yang lebih ekstrim lagi Pemerintah mendudukkan dirinya sebagai ningrat yang selalu haus untuk dilayani oleh para jongos yang harus diberi upah rendah agar para ningrat tersebut dapat selalu terlayani. Jangan sampai para jongos tersebut menjadi sejahtera karena akan meninggalkan posisinya sebagai 'jongos'. Pandangan ini saya peroleh dari tanggapan terhadap sepenggal pandangan saya di sebuah milis.

Rasanya memang seperti itu, sehingga posisi pemerintah yang seharusnya memenuhi layanan publik yang bersifat sosial malah terabaikan. Aparat-aparat pemerintah malah minta dilayani hampir disetiap jenjang dan lebih celaka lagi mereka mengutipi pungli hampir disemua lini dan sektor. Hal ini mencerminkan jauhnya fungsi pemerintah yang 'ideal'.

Mereka tidak lagi berpikir perlunya mendapatkan devisa dengan berbagai upaya yang positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakatnya, namun justru berpikir bagaimana bisa hutang untuk memudahkan merealisasikan apa yang ada didalam benak si 'ningrat'.

Bahwa ini memiliki konsekwensi biaya uang yang sangat besar sehingga mengakibatkan terdevaluasinya rupiah terus menerus tidak lagi jadi masalahnya. Mereka hanya memandang bahwa pelemahan rupiah adalah peningkatan daya saing di pasar global… padahal ini jelas pemutar balikkan fakta, bahwa pelemahan nilai rupiah adalah pemiskinan terhadap anak bangsa sehingga dari hari ke hari rakyat semakin menghalalkan segala cara untuk menyambung hidupnya.

Bahwa pelemahan rupiah mengakibatkan anak bangsa rela menjadi 'jongos' di negeri orang dan karena pemerintah yang memiliki jiwa 'ningrat' yang haus untuk dilayani maka hal ini dianggap saja sebagai hal yang positif.

Dan para 'jongos' siap mencuri barang milik negara jika sang majikan sedikit lengah :-) Ditepian jalan kereta api, dikolong-kolong jembatan dan jalan tol, dibantaran sungai, diatas trotoar, di terminal bayangan hampir disetiap fasilitas publik yang yang bisa mereka duduki akan di jadikan tempat usaha dan berteduh

http://rachmad.kuyasipil.net/?p=301

Read On 0 comments

Klasifikasi Orang Berdasarkan kentut

6:00 PM

----- Original Message -----
SMALAM@yahoogroups.com
Sent: Wednesday, November 12, 2008 7:17 PM

  • ORANG YANG TIDAK JUJUR Orang yang kalau kentut nyalahin orang lain.
  • ORANG GOBLOK Orang yang menahan kentutnya ber jam-jam.
  • ORANG YANG BERWAWASAN LUAS Orang yang tahu kapan harus kentut .
  • ORANG SENGSARA Orang yang mau kentut tapi nggak bisa.
  • ORANG MISTERIUS Orang yang kalo kentut, orang laen nggak tau.
  • ORANG GUGUP Orang yang tiba tiba menahan kentut nya saat kentut.
  • ORANG PEDE Orang yang ngira kalo kentutnya wangi.
  • ORANG SADIS Orang yang kalo abis kentut, kentutnya di kibaskan ke orang laen.
  • ORANG PEMALU Orang yang kalo kentut nggak bunyi, tapi malu sendiri.
  • ORANG STRATEGIS Orang yang menyembunyikan kentutnya dengan tertawa terbahak-bahak.
  • ORANG BEGO Orang yang habis kentut, menghirup nafas untuk mengganti kentutnya yang keluar.
  • ORANG PELIT Orang yang kalo kentut dikit-dikit.
  • ORANG SOMBONG Orang yang sering mencium kentutnya sendiri.
  • ORANG RAMAH Orang yang senang mencium kentut orang lain.
  • ORANG TIDAK SENANG BERGAUL Orang yang kalo kentut sembunyi.
  • ORANG AKUATIK Orang yang suka kentut di dalam air.
  • ORANG ATLETIS Orang yang kalo kentut sambil mengeluarkan tenaga dalam.
  • ORANG JUJUR Orang yang ngaku kalo habis kentut.
  • ORANG PINTER Orang yang bisa menandakan bau kentut orang lain.
  • ORANG SIAL Orang lain yang kentut tapi selalu dia yang dituduh kentut.
  • ORANG JOROK Orang yang kentut disertai dengan cairan (cepirit).
  • ORANG TENGIL Orang yang kentut sambil ngupil.
  • ORANG INTERNET Orang yang bunyi kentunya seperti modem.
  • ORANG MUSIK/MUSISI Orang yang bunyi kentutnya berirama merdu.
  • ORANG KERAS KEPALA Orang yang langsung membalas kentut orang lain setelah dia dikentuti.
  • ORANG BRENGSEK Orang yang ngentutin orang lain didepan mukanya.

    SerBa SerBi Kentut
  1. Dari mana asal kentut ? Dari gas dalam usus. Gas dalam usus berasal dari udara yang kita telan, yang menerobos ke usus dari darah, gas dari reaksi kimia & gas dari bakteri dalam perut.
  2. Apa komposisi kentut ? Bervariasi. Makin banyak udara anda telan, makin banyak kadar nitrogen dalam kentut (oksigen dari udara terabsorbsi oleh tubuh sebelum sampai di usus). Adanya bakteri serta reaksi kimia antara asam perut & cairan usus menghasilkan karbondioksida. Bakteri juga menghasilkan metana & hidrogen. Proporsi masing-masing gas tergantung apa yang anda makan, berapa banyak udara tertelan, jenis bakteri dalam usus, berapa lama kita menahan kentut . Makin lama menahan kentut, makin besar proporsi nitrogen, karena gas-gas lain terabsorbsi oleh darah melalui dinding usus. Orang yang makannya tergesa-gesa kadar oksigen dalam kentut lebih banyak karena tubuhnya tidak sempat mengabsorbsi oksigen. (Makanya jangan suka nahan kentut).
  3. Kenapa kentut berbau busuk ? Karena kandungan hidrogen sulfida & merkaptan. Kedua senyawa ini mengandung sulfur (belerang). Makin banyak kandungan sulfur dalam makanan anda, makin banyak sulfida & merkaptan diproduksi oleh bakteri dalam perut, & makin busuklah kentut anda. Telur & daging punya peran besar dalam memproduksi bau busuk kentut. Kacang-kacangan berperan dalam memproduksi volume kentut, bukan dalam kebusukannya.
  4. Kenapa kentut menimbulkan bunyi ? Karena adanya vibrasi lubang anus saat kentut diproduksi. Kerasnya bunyi tergantung pada kecepatan gas. (Dan diameter lubang anus anda, hi..hi....)
  5. Kenapa kentut yang busuk itu hangat & tidak bersuara ? Salah satu sumber kentut adalah bakteri. Fermentasi bakteri & proses pencernaan memproduksi panas, hasil sampingnya adalah gas busuk. Ukuran gelembung gas lebih kecil, hangat & jenuh dengan produk metabolisme bakteri yg berbau busuk. Ini kemudian menjadi kentut, walau hanya kecil volumenya, tapi SBD (Silent But Deadly).
  6. . Berapa banyak kentut diproduksi sehari ? Rata-rata setengah liter sehari dalam 14 kali kentut.
  7. Mengapa kentut keluar melalui lubang dubur ? Karena density-nya lebih ringan, kenapa gas kentut tidak melakukan perjalanan ke atas? Tidak demikian. Gerak peristaltik usus mendorong isinya ke arah bawah. Tekanan di sekitar anus lebih rendah. Gerak peristaltik usus menjadikan ruang menjadi bertekanan, sehingga memaksa isi usus, termasuk gas-nya untuk bergerak ke kawasan yg bertekanan lebih rendah, yaitu sekitar anus. Dalam perjalanan ke arah anus, gelembung-gelembung kecil bergabung jadi gelembung besar. Kalau tidak ada gerak peristaltik, gelembung gas akan menerobos ke atas lagi, tapi tidak terlalu jauh, karena bentuk usus yg rumit & berbeit-belit. (Bayangkan kalo kentut keluar dari lubang hidung).
  8. Berapa waktu yang diperlukan oleh kentut untuk melakukan perjalanan kehidung orang lain ?. Tergantung kondisi udara, seperti kelembaban, suhu,kecepatan & arah angin, berat molekul gas kentut, jarak antara 'transmitter'dengan 'receiver'. Begitu meninggalkan sumbernya, gas kentut menyebar konsentrasinya berkurang. Kalau kentut tidak terdeteksi dalam beberapa detik, berarti mengalami pengenceran di udara & hilang ditelan udara selama-lamanya. Kecuali kalau anda kentut di ruang sempit, seperti lift, mobil, konsentrasinya lebih banyak, sehingga baunya akan tinggal dalam waktu lama sampai akhirnya diserap dinding.
  9. Apakah setiap orang kentut ? Sudah pasti, kalau masih hidup. Sesaat setelah meninggal pun orang masih bisa kentut. (Makanya gak usah malu kalo sering kentut)
  10. Betulkah laki-laki kentut lebih sering daripada perempuan ? Tidak ada kaitannya dengan gender.. Kalau benar, berarti perempuan menahan kentutnya, & saat kentut banyak sekali jumlah yg dikeluarkan. (Makanya kentut perempuan lebih bau, ha..ha....)
  11. Saat apa biasanya orang kentut ? Pagi hari di toilet. yang disebut "morning thunder". Kalau resonansinya bagus, bisa kedengaran di seluruh penjuru rumah.
  12. Mengapa makan kacang-kacangan menyebabkan banyak kentut ? Kacang-kacangan mengandung zat gula yang tidak bisa dicerna tubuh. Gula tsb (raffinose, stachiose, erbascose) jika mencapai usus, bakteri di usus langsung berpesta pora & membuat banyak gas. Jagung, paprika, kubis, kembang kol, susu juga penyebab banyak kentut (bukan baunya!).
  13. Selain makanan, apa saja penyebab kentut ? Udara yang tertelan, makan terburu-buru, makan tanpa dikunyah, minum soft drink, naik pesawat udara (karena tekanan udara lebih rendah, sehingga gas di dalam usus mengalami ekspansi & muncul sebagai kentut).
  14. Apakah kentut sama dengan sendawa, tapi muncul dari lain lubang ? Tidak... sendawa muncul dari perut, komposisi kimianya lain dengan kentut. Sendawa mengandung udara lebih banyak, kentut mengandung gas yang Diproduksi oleh bakteri lebih banyak.
  15. Kemana perginya gas kentut kalau ditahan tidak dikeluarkan ? Bukan diabsorbsi darah, bukan hilang karena bocor..Tapi bermigrasi ke bagian atas menuju usus & pada gilirannya akan keluar juga. Jadi bukan lenyap, tapi hanya mengalami penundaan.
  16. Mungkinkah kentut terbakar ? Bisa saja. Kentut mengandung metana, hidrogen yang combustible (gas alam mengandung komponen ini juga). Kalau terbakar, nyala-nya berwarna biru karena kandungan unsur hidrogen. (Kalo naik gunung, lupa bawa korek api tapi mau masak indomie, pakai aja kentut buat nyalain kompor)
  17. Bisakah menyalakan korek api dengan kentut ? Jangan mengada-ada. .. konsistensinya lain. Juga suhunya tidak cukup panas untuk memulai pembakaran.
  18. Mengapa kentut anjing & kucing lebih busuk ? Karena anjing & kucing adalah karnivora (pemakan daging). Daging kaya akan protein. Protein mengandung banyak sulfur, jadi bau kentut binatang ini lebih busuk. Lain dengan herbivora seperti sapi, kuda, gajah, yang memproduksi kentut lebih banyak, lebih lama, lebih keras bunyinya, tapi relatif tidak berbau. (Makanya lebih baik pelihara gajah di rumah daripada anjing).
  19. Betulkah bisa teler kalau mencium bau kentut 2-3 kali berturut-turut ? Kentut mengandung sedikit oksigen, mungkin saja anda mengalami pusing kalau mencium bau kentut terlalu banyak. (Makanya yang punya hobi cium bau kentut, sebaiknya dikurangin)
  20. Apakah warna kentut ? Tidak berwarna. Kalau warnanya oranye seperti gas nitrogen oksida, akan ketahuan siapa yang kentut.
  21. Kentut itu apakah asam, basa atau netral ? Asam, karena mengandung karbondioksisa (CO2) & hidrogen sulfida (H2S).
  22. Apa yang terjadi kalau seseorang kentut di planet Venus ? Planet Venus sudah banyak mengandung sulfur(belerang) di lapisan udaranya, jadi kentut di sanapun tidak ada pengaruhnya. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan tentang perkentutan....
Subject: [lambah.net] Fwd: Fw: Klasifikasi Orang Berdasarkan kentut


Read On 1 comments
Read On 0 comments

Senja di Barelang

6:27 PM

Read On 0 comments
Read On 0 comments
Read On 0 comments

Terjebak Banjir

1:53 AM
Mengapa banjir??????


  • Apakah emang keinginan alam untuk rutinitas setiap tahun?

  • Apakah emang keinginan suatu kelompok akan hal tersebut?
  • Apakah emang keinginan individu pula akan hal tersebut
  • Apakah emang kebijakan yang selalu berpihak kpd kepentingan kelompok/individu untuk menguntungkan dan merugikan rakyat?
  • Apakah emang dengan banjir manusia dapat kembali (primitiv)?
  • Apakah emang dengan banjir manusia bisa sadar kembali dan peduliakan alam....

http://groups.yahoo.com/group/fahutan-unmul/message/6110;_ylc=X3oDMTJxc3VsYzlnBF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzI5NzU1MjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MjQwNTYwBG1zZ0lkAzYxMTAEc2VjA2Rtc2cEc2xrA3Ztc2cEc3RpbWUDMTIyNjE3MTgzOA--

Read On 0 comments

Hujan

7:28 PM

Secara teoritik hujan hanyalah air yang jatuh dari awan, yakni air yang cair, tetesannya mempunyai garis tengah 0,1-5,5 mm dan kecepatan jatuhnya 0,1-8 mm per detik. Selain itu, hujan guruh atau dalam bahasa Ingris disebut sebagai thunder atau thunderstorm adalah perubahan keadaan atau cuaca karena masuknya udara yang sangat dingin dalam kawasan udara yang panas. Karena itu uap udara yang panas tadi berkondensasi yang artinya hujan turun. Karena arus udara yang naik dan yang bertukar-tukar, maka tetesan hujan itu terhembus sehingga pecah berhamburan dan timbullah dua macam tetesan, yang satu berupa tetesan kecil-kecil yang bermuatan negatif dan saudaranya berupa tetesan-tetesan besar yang bermuatan positif. Tetesan yang kecil dengan mudah terbawa udara naik keatas dan semakin menjauhkan jarak antara yang negatif dan positif dan menimbulkan gejala listrik dan melepaskan energi bernama Halilintar. Begitu saja penjelasan tentang hujan, tak lebih tak kurang.

Tetapi segala sesuatu akan kehilangan makna jika segala sesuatu itu tidak dilihat dari kebeningan jiwa. Karena kacamata begitulah, hujan yang hanya berupa tetesan air hanyalah sebuah gejala alam yang tak berarti apa-apa. Semua berlalu secara mekanik, ibarat matahari yang selalu terbit di timur dan berhenti dipeluk malam pada titik barat. Lalu kalau demikian, dimanakah keagungan hidup ?.

Keagungan hidup adalah hasil dari persekutuan kimiawi yang membentuk ketajaman pemikiran yang bercampur baur dengan rasa dan karsa. Percampuran yang dikehendaki ini "bergalintin pintin" memperhalus budi sehingga melihat apa yang tidak diuangkap secara terang benderang, dimana seorang buta akan melihat cahaya terang dikegelapannya. Pada titik itulah hujan kemudian menuai makna.

Pemaknaan hujan sebagai sebuah benda alam yang terkutuk membawa rasa nelangsa atau harapan yang melimpah ruah bukanlah tergantung kepada umur, sebab, meminjam istilah iklan sampoerna, tua itu pasti tapi dewasa adalah pilihan. Kali ini kata bernas yang terjebak pada jargon komersialitas itu saya ubah menjadi, "Tua itu Pasti, Menjadi Arif Itu Pilihan".

Kerapkali hujan menanggung kerinduan seorang pecinta, membelit dan mencekik. Sebab ia memaknai hujan sebagai jembatan rasanya yang rindu berbalut dendam. Menyakitkan sekaligus indah. Apalagi para pungguk yang cintanya tak pernah sampai, tidur bergelung, menghitung kasau, dan ketika mata dipaksa untuk terpejam, dipelupuk menari bayangannya, pada jenjang itulah hujan yang jatuh diatap, ibarat asam cuka yang mengalir dibubungan, kemudian merembes dan jatuh pada pertengahan luka. Itulah luka kerinduan yang diasami rintik hujan. Hingga tak heran, seorang Zalmon, penyayi tua Padang, menyanyi sembari meratap, mendendangkan "Rinai Pembasuh Luka".

Pada petani, hujan adalah salah satu prasyarat penting untuk menyambung kehidupan. Keberadaan hujan kemudian menempati posisi sakral dan memiliki keterikatan mistis dan magis dengan dia yang memiliki segala ada, yang adanya, ada sebelum yang ada itu ada bahkan dalam filsafat minang menyebutkan sebelum apa yang disebut dengan belum (sabalun alun barabalun) ia sudah ada.

Hujan sebagai episentrum kebudayaan pertanian lahan basah telah melahirkan apa yang disebut dengan "Pranoto Wongso" di Jawa, dimana siklus dengan pertanda alam tentang masa turun kesawah dijalankan dengan takzim berabad-abad berintikan putaran sang hujan. Demikian juga ritual-ritual kuno sampai ke agama-agama samawi memiliki doa'a-do'a sakral peminta hujan. Bahkan diberbagai kesempatan petanda linuwihnya para penguasa dan makbulnya para ulama adalah ketika ia dapat meminta hujan saat kemarau mengantarkan paceklik dan kelaparan pada penduduk negeri.

Tetapi telah bertahun kata hujan bersisian erat dengan bencana. Langit telah mengirimkan hujan yang menggelontorkan bukit dan tebing-tebing keperkampungan, bahkan aur dan rumpun-rumpun bambu tak lagi sanggup menjalani takdir sebagai teman sehidup semati tebing. Iapun ikut "rompak" terguling bersama bongkahan tanah menghimpit pondok-pondok petani. Hujan juga mengirim danau ke kota-kota, ketika kayu-kayuan telah berubah menjadi pancang-pancang beton dan diatasnya mesin-mesin berlarian, mengirimkan kepulan asap hitam dan seketika mengurung angkasa.

Murkakah sang langit ketika hujan tak membawa berkah dan itupun makin lama datang tak terduga. Pranoto Wongso atau apapun pola adaptif terhadap kearifan sang hujan telah kacau balau. Harapan yang biasanya tersimpan pada kantung-kantung hitam awan yang bergayut diangkasa, kini menghampa. Pengerukan tak henti segala benda dan unsur bumi sampai keintinya telah memutus banyak rantai-rantai kehidupan. Ya inilah dekade keserakahan seperti yang dikatakan oleh Josep E. Stiglitz.

Kalau kita kembali kepada cerita-cerita kuno dan cerita-cerita alkitab, bukankah hampir semua peradaban dihancurkan ketika keserakahan telah sampai pada titik paripurna. Seperti cerita Fir'aun yang mengaku tuhan, hari ini belalang datang bergelombang-gelombang, seperti hujan tak terhitung, memamah habis perladangan. Apakah ini pertanda ?. Kalaulah ini pertanda, sebelum tuhan mengirim sungai-sungai darah seperti Mesir diambang keruntuhan, harus ada yang melihat ini sebagai tanda. Tetapi hanya orang yang memiliki hakikatnya hati yang dapat melihat semua sebagai pertanda.

Hujan selain padanya disandangkan makna melankolik, romanitisisme cinta, padanya juga tak jarang ditumpahkan segala sumpah serapah. Ya sumpah serapah para pedagang kaki lima yang tidak mendapatkan apa-apa pada malam bazar kampung, karena para pengunjung lebih memilih tidur atau bersiap menanti banjir akan datang. Pilihan model ekonomi yang mengakumulasi pertumbuhan pada segelintir tangan-tangan gurita raksasa telah mengusir mereka dari pusat-pusat perdagangan seperti Blok M dan Tanah Abang. Hingga mereka hanya memiliki dua pilihan, disapih kebijakan anti kemiskinan yang berbunga-bunga dimedia atau diburu, hingga lenyap dari depan mata. Pada akhirnya para pedagang ini mesti berkesumat dengan hujan.

Kelihatannya kata hujan juga memiliki makna berbeda kali ini di Amerika. Keruntuhan perusahaan-perusahaan multinasional seketika seperti rumah semut tercurah hujan dan air bah itu tidak berhenti begitu saja. Ia kemudian merambat pada pasar-pasar bursa, dari wallstreet kemudian ke Eropa, Jepang dan mengguncang Jakarta. Pertanda apakah ini ?.

Serapuh itukah segala kemudahan dan kemewahan sebuah sistem yang dirindu dan dicerca. Padahal pada saat itu, banyak pihak menyangka dengan berakhirnya perang dingin, maka berakhir pula idiologi. Sistem perusahaan bebas telah berjaya dan kita semua bertugas menyempurnakan sistem itu. Kalahnya komunisme adalah kalahnya patologi, kalahnya sebuah penyimpangan, kalahnya rezim otoriter. Perlawanan terhadap penyimpangan itu mengalihkan perhatian pada masalah besar yakni masyarakat seperti apa yang ingin dibentuk dibumi. Pada akhirnya dalam dunia global ini, apakah kita harus berjalan pada nada genderang yang sama, lalu dimana ruang bagi keberagaman. Pernyataan dan pertanyaan Stiglitz seperti hujan menghantam kebutaan penghambaan kita pada sisitem ekonomi itu.

Pada akhirnya kembalikanlah hujan pada qittahnya, pembawa rahmad dan pertanda kasih sayang yang esa bagi orang-orang yang mau melihat ini sebagai pertanda. Tidak melankolik, menyimpan amarah, gemuruh duka atau menjauh tak berharap, tetapi ia dingin dan mendinginkan tempat kehidupan tumbuh menyambung peradaban.

Pondok Labu, 2 November 2008__,_._,___

Read On 0 comments
 
Profil Facebook Raflis Raf

TRANSLATE THIS BLOG

Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Widget edited by Anang

Yahoo Pingbox

Aktifitas

Rapat Tata Ruang Pulau Sumatra

Rapat Fortrust Padang Agustus 2008

 

Rapat Fortrust Padang Agustus 2008

 

Rapat Fortrust Padang Agustus 2008

 

Pulp Meeting Pekanbaru

Pulp Meeting Pekanbaru

 

Pulp Meeting Pekanbaru

 

Pulp Meeting Pekanbaru

 

Pulp Meeting Medan

Pulp Meeting Medan

 

Pulp Meeting Medan

 

Pulp Meeting Jambi

 

Pulp Meeting Jambi

 

Pulp Meeting Jambi

 

Pulp Meeting Balikpapan

 

Pulp Meeting Balikpapan

 

Pulp Meeting Balikpapan

 

Pulp Meeting Banjar Baru

 

Pulp Meeting Banjar Baru

 

Pulp Meeting Banjar Baru

 

Pulp Meeting Palangkaraya

 

Pulp Meeting Palangkaraya

 

Pulp Meeting Palangkaraya

 

Pulp Meeting Palangkaraya

 

Konfrensi Pers Bencana Ekologis

 

Konfrensi Pers Bencana Ekologis

 

Konfrensi Pers Bencana Ekologis

 

Konfrensi Pers Bencana Ekologis

 

Konfrensi Pers Bencana Ekologis

 

Konfrensi Pers Bencana Ekologis

 

Konfrensi Pers Bencana Ekologis

 

Konfrensi Pers Bencana Ekologis

 

Kelompok Kerja Tata Ruang Riau

 

Kelompok Kerja Tata Ruang Riau

 

Kelompok Kerja Tata Ruang Riau

 

Kelompok Kerja Tata Ruang Riau

 

Balung

Balung

Balung

Balung

Balung

Pemetaan Sungai Bela

Sungai Bela

 

Sungai Bela

 

Sungai Bela

 

Sungai Bela

 

Sungai Bela

 

Sungai Bela

 

Sungai Bela

 

Sungai Bela

 

Sungai Bela

 

Sungai Bela

 

Sungai Bela

 

Sungai Bela

 

Lain lain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Arsip Blog Tata Ruang

  • Lihat Mengutamakan Manfaat Tanah: Menyibak Bom Waktu di ... Telaah Kasus
  • Lihat Keterangan Saksi Ahli Kasus Illegal Logging Riau
  • Lihat Dari Peta Kawasan Lindung Nasional
  • Lihat Contoh kasus konflik ruang (Perusahaan VS masyarak...
  • Lihat Solusi Dalam Menghambat Laju Deforestasi Dan Degra...
  • Lihat Ketika Kelapa Sawit Menjadi Primadona
  • Lihat Gubernur se-Sumatera Tegaskan Komitmen Selamatkan ...
  • Lihat Kembali dari Spanyol, Gubri Tegaskan Komitmen Jaga...
  • Lihat Bangun Jalur Hijau dan Taman Dinas TRCK Anggarkan ...
  • Lihat Warga Pertanyakan Tata Ruang Bagan Batu
  • Lihat Sumbar Kaji Perdagangan Karbon
  • Lihat YP&MPR Minta Pembabatan Hutan Skala Besar Dihentik...
  • Lihat DPRD Ancam tak Bahas Perda RTRW
  • Lihat DPRD Stuban, Ranperda Terbengkalai
  • Lihat Tak Punya Tata Ruang, Dephut Tegur Pemprov
  • Lihat Warga Tolak TNTN Lokasi Konservasi Gajah
  • Lihat Ranperda RTRW Perlu Diperbaiki
  • Lihat Pansus Undang Wakil Masyarakat
  • Lihat Pemkab Dukung Pokja Petani Karet
  • Lihat Pembahasan Tiga Ranperda Ditargetkan Rampung Akhir...
  • Lihat Pemko Plot Lahan Bandara 229 Ha
  • Lihat Masyarakat Logas Desak Kapolda Usut
  • Lihat Kepala BPN Akui Bagan Batu Masuk Kawasan Hutan
  • Lihat Dishutbun Data Jumlah Perusahaan Perkebunan
  • Lihat Warga Desak Pemerintah Tetapkan Revisi Tata Ruang
  • Lihat Sembilan Orang Diperiksa
  • Lihat Pemkab Surati Gubernur Riau
  • Lihat Peta Lokasi Kebun K2I Pemkab dan Provinsi Berbeda
  • Lihat Pemko Pekanbaru Ajukan Ranperda RTRW
  • Lihat Ikuti Aturan Baru, Pemko Siapkan Perubahan RUTRK
  • Lihat DAS SIAK PERLU PENATAAN...
  • Lihat Pansus RTRWP Riau Tolak Siabu Jadi Tempat Latihan ...
  • Lihat Riaupulp Ajak LKD Olak dan Segati Study Banding Ke...
  • Lihat Fw: [tata_ruang_riau] Riau - Ribuan Hektare Lahan ...
  • Lihat Kampung Melayu Perlu Diwacanakan Pemko Pekanbaru
  • Lihat Fatal, Draf Ranperda RTRW Perlu di Evaluasi
  • Lihat Lahan Pertanian dan Pendidikan Jadi Prioritas pada...
  • Lihat Setiap Fraksi Berikan Saran dan Pertanyaan Terhada...
  • Lihat Fatal, Draf Ranperda RTRW Perlu di Evaluasi
  • Lihat Ranperda RTRW Perlu Diperbaiki
  • Lihat Kongres IUCN Barcelona 10 Oktober 2008 foto
  • Lihat Indonesia Umumkan Komitmen Gubernur se-Sumatera un...
  • Lihat Draft Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau Penataan Ruang,
  • Lihat Pertemuan Gubernur Se Sumatra 18 Sept 2008 RTR Pulau Sumatra
  • Lihat http://www.mediafire.com/?df56ltyiisr
  • Lihat Draft Rencana Tata Ruang Pulau Sumatra RTR Pulau Sumatra
  • Lihat FOR TRUST (Forum Tata Ruang Sumatra) foto,
  • Lihat Pertemuan Rencana Tata Ruang Pulau Sumatra RTR Pulau Sumatra
  • Lihat Rapat Keluarga Monyet lain-lain
  • Lihat Para Bupati Diminta Tidak Sembarangan Menerbitkan ...
  • Lihat Pemanasan Global dan Penataan Ruang
  • Lihat Pentingnya pengelolaan Tata Ruang Wilayah Pesisir ...
  • Lihat Kajian UU rencana tata ruang Penataan Ruang
  • Lihat Proyek PLTU Tangerang salahi Tata Ruang
  • Lihat Jakarta Kebanjiran
  • Lihat Lansekap, sustainable Development dan MDGs
  • Lihat Implementasi Tata Ruang Daerah Aliran Sungai Untuk...
  • Lihat Pengenala Model Implementasi Penataan Ruang Kawasa...
  • Lihat Cara Berfikir Sistem dan Penerapannya dalam Analis...
  • Lihat Arsitektur Dan Kota Tampa Etika
  • Lihat Antisipasi Dampak Pemanasan Global Dari Aspek Tekn...
  • Lihat [ac-i] kota jawa menelan lingkungan
  • Lihat Hilangnya Ruang Publik: Ancaman bagi Kapital Sosia...
  • Lihat Rencana Tata Ruang Seharusnya Menjadi Main Entrace...
  • Lihat UU Penataan Ruang; Mau Kemana..???
  • Lihat Tata Ruang Milik Siapa???
  • Lihat Kematian Politik Ruang
  • Lihat Kriminalisasi Pelanggar Tata Ruang Dua Tahun Lagi
  • Lihat Analisis Izin Pemanfaatan Ruang terhadap PP 26 200...
  • Lihat PP N0. 2 Tahun 2008 melanggar UU No. 26 Tahun 2006...
  • Lihat Data Dan Fakta PP 26 2008 - Upload...
  • Lihat Pulau Jawa Terancam Krisis Pangan Persoalan Tata Ruang
  • Lihat Pencabutan/ Pembekuan Ijin Konsesi HTI RAPP Dan Tan...
  • Lihat Rencana Tata Ruang Pulau Sumatra RTR Pulau Sumatra
  • Lihat Posisi Kasus PT Lestari Unggul Makmur
  • Lihat Kepal Koe Satoe: Ranperda TENTANG PENGELOLAAN KAWA...
  • Lihat Kebakaran Hutan dan lahan tanggal 22 februari 2008...
  • Lihat Kebakaran Hutan dan lahan tanggal 21 februari 2008...
  • Lihat Kebakaran Hutan dan lahan tanggal 20 februari 2008...
  • Lihat Kebakaran Hutan dan lahan tanggal 19 februari 2008...
  • Lihat Kebakaran Hutan dan lahan tanggal 18 februari 2008...
  • Lihat Kebakaran di lahan Gambut
  • Lihat Kontroversi Perizinan HTI di provinsi Riau
  • Lihat Pengurangan Hutan Pemicu Perubahan Iklim
  • Lihat Kemungkinan dilakukannya Judicial Review terhadap ...
  • Lihat Seribu Hektar Hutan Alam Riau Jadi HTI Jika Ranper...
  • Lihat 600 Ribu Ha Menunggu Dikembangkan
  • Lihat Mengritisi Kesepakatan Bersama Antara Badan Pertan... Konflik Tenurial
  • Lihat Surat Serikat Tani Riau untuk Panitia Ad Hoc II DP... Wilayah Kelola Masyarakat
  • Lihat Menhut: 59,3 Juta Hektare Hutan Indonesia Rusak da...
  • Lihat 50% Bangunan Langgar IMB Persoalan Tata Ruang
  • Lihat Terjadi Perampasan Ruang Publik
  • Lihat Rencana Tata Ruang Wilayah akan Dipasang di Tiap K...
  • Lihat Pemerintah akan Revisi RUU Tata Ruang Atasi Banjir...
  • Lihat Terjadi 135 Bencana Ekologis di Indonesia Selama 2...
  • Lihat Hutan Alam Riau Kini Tinggal 5 Persen
  • Lihat Rencana Tata Ruang Ancam Hilangkan 3,1 Juta Ha Lah...
  • Lihat PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM HARUS PERHATIKAN LANS...
  • Lihat Indonesia Bawa Tujuh Agenda dalam Konferensi UNFCC...
  • Lihat Penghancuran Lingkungan Berlanjut
  • Lihat Bantuan Program Reforestasi Indonesia Bagian Kesa...
  • Lihat Perencanaan Pembangunan Harus Disesuaikan dengan P...
  • Lihat Menyiasati Dampak Pemanasan Global
  • Lihat "Isu Pemanasan Global Bisa Kita Hadapi Tanpa Ameri...
  • Lihat Lahan Gambut Berperan Kurangi Pemanasan Global
  • Lihat Masyarakat Harus Diberitahu Soal Perubahan Iklim
  • Lihat RUMUSAN HASIL RAPAT KERJA NASIONAL BADAN KOORDINAS...
  • Lihat KONSISTENSI PENATAAN RUANG DAN PEMANFAATAN, LANGKA...
  • Lihat Rencana Tata Ruang Riau: Tanah Ulayat Harus Masuk ...
  • Lihat Tanah Ulayat Harus Masuk ke RTRW Riau
  • Lihat Suaka Margasatwa Balai
  • Lihat SUSANTO KURNIAWAN: Kerusakan Hutan di Riau Terting...
  • Lihat Pemkab Turun Tangan Amankan Perbatasan Kuansing
  • Lihat Pemerintah Tidak Punya Pemetaan Prioritas Infrastr...
  • Lihat Ratusan Warga Desa Terisolir Kampar Demo DPRD Riau...
  • Lihat Ribuan Ikan di Kampar Mati
  • Lihat Pengesahan Perda RTRWP Ditunda
  • Lihat Tahun 2040 : 2.000 pulau tenggelam
  • Lihat Data Tata Ruang Hutan Perlu Sinkronisasi Berita
  • Lihat Mhn Info Perda Riau tentang Tata Ruang Kawasan Sun...
  • Lihat Mhn Info Perda Riau tentang Tata Ruang Kawasan Sun...
  • Lihat Perhatikan Aspek Lingkungan Rencana Tata Ruang Kabupaten
  • Lihat Cara mendelineasi Kawasan Lindung dan Budidaya dal...
  • Lihat ”Master Plan” Tata Ruang Belum Diperbaharui
  • Lihat Mhn Info Perda Riau tentang Tata Ruang Kawasan Sun...
  • Lihat Mhn Info Perda Riau tentang Tata Ruang Kawasan Pan...
  • Lihat Kesalahan Delineasi RTRWP 5 (komentar) Delineasi Kawasan,
  • Lihat Kesalahan delineasi RTRWP 5 (Kawasan Suaka Alam)
  • Lihat Kesalahan Delineasi RTRWP 4 (Kawasan Perlindungan ...
  • Lihat Kesalahan Delineasi RTRWP 3 (Kawasan Lindung Gambu...
  • Lihat Kesalahan Delineasi RTRWP 2 (Kawasan Hutan Resapan...
  • Lihat Kesalahan Delineasi RTRWP 1
  • Lihat Dugaan Penyerobotan Lahan oleh PTPN V 2
  • Lihat Cara mendelineasi Kawasan Lindung dan Budidaya dal...
  • Lihat Cara mendelineasi Kawasan Lindung dan Budidaya dal...
  • Lihat Hak ulayat masyarakat adat
  • Lihat Peran serta masyarakat Forum Diskusi
  • Lihat Dukungan untuk Taman Nasional Zamrud Terus Mengali...
  • Lihat Dukungan untuk Taman Nasional Zamrud Terus Mengali...
  • Lihat Pemkab Diminta Inventarisasi Lahan Forum Diskusi,
  • Lihat Kehidupan Penghuni Hutan Itu Mulai Terusik2
  • Lihat Masyarakat Diminta Tidak Alih Fungsikan Lahan
  • Lihat Dugaan Penyerobotan Lahan oleh PTPN V
  • Lihat Pengrusakan Alam (Hutan) Era tahun '80an, '90an da...
  • Lihat Warga Sungai Rumbia Mengungsi
  • Lihat Kawasan lindung perhentian Sungkai
  • Lihat Kebun K2I Tak Kunjung Selesai, DPRD Hearing dengan...
  • Lihat Terbakarnya lahan gambut akibat salahnya tata ruan...
  • Lihat Kebun K2I Tak Kunjung Selesai, DPRD Hearing dengan...
  • Lihat Suku Sakai Desak Polda Riau Tuntaskan Sengketa Lah...
  • Lihat Upaya Pemerintah Atasi Masalah Pertanahan Nasional...
  • Lihat Upaya Pemerintah Atasi Masalah Pertanahan Nasional...
  • Lihat lahan untuk rakyat cuma dialokasikan 0,62 ha/jiwa ...
  • Lihat lahan untuk rakyat cuma dialokasikan 0,62 ha/jiwa ...
  • Lihat Hutan Senepis Terbentur Kewenangan
  • Lihat lahan untuk rakyat cuma dialokasikan 0,62 ha/jiwa ...
  • Lihat Banjir Rendam Rohul
  • Lihat Hutan Senepis Terbentur Kewenangan
  • Lihat Kanal Belum Selesai, Sawah Terendam
  • Lihat Masyarakat Turun ke Jalan Sekitar 75 Persen Kelura...
  • Lihat Dua Hari Diguyur Hujan
  • Lihat Dukungan untuk Taman Nasional Zamrud Terus Mengali...
  • Lihat Ketersediaan Lahan HGU Mulai Terbatas
  • Lihat Pemprov Diminta Tak Mengacu Perda Nomor 10/1994
  • Lihat Kebijakan HCVF Ancam Hak Masyarakat Adat
  • Lihat Peran Serta Masyarakat 6
  • Lihat Peran Serta Masyarakat 6
  • Lihat Peran Serta Masyarakat 5
  • Lihat Peran serta masyarakat 4
  • Lihat Peran serta masyarakat 3
  • Lihat Peran Serta Masyarakat 2
  • Lihat Peran serta masyarakat 1
  • Lihat Kebijakan HCVF Ancam Hak Masyarakat Adat
  • Lihat Riau Belum Selesaikan Penunjukan Kawasan Hutan
  • Lihat Pemerintah Diminta Hormati Tanah Ulayat
  • Lihat BKSDA Terkesan Abaikan Kejati
  • Lihat RTRW Harus Pertegas Kawasan Bencana Alam di Riau
  • Lihat Banjir dan Tata Ruang 11
  • Lihat Banjir dan Tata Ruang 11
  • Lihat Banjir dan Tata Ruang 10
  • Lihat Banjir dan Tata Ruang 9
  • Lihat Banjir dan Tata Ruang 8
  • Lihat Banjir dan Tata Ruang 7
  • Lihat Banjir dan Tata Ruang 6
  • Lihat Banjir dan Tata Ruang 5
  • Lihat Banjir dan Tata Ruang 4
  • Lihat Banjir dan Tata Ruang 3
  • Lihat Banjir dan Tata Ruang 2
  • Lihat Banjir dan Tata Ruang 1
  • Lihat UU Penataan Ruang;
  • Lihat Ichsanuddin: Cara Berpikir Pemerintah tentang Tata...
  • Lihat DAS Siak Diusulkan Dikelola Lembaga Khusus
  • Lihat Usulan Jikalahari Terhadap DPRD Riau Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi

Multiply

Wordpress

Slide Share

rencanatataruangriau.blogspot.com

riau-forest-fie.blogspot.com

pulp-dan-kertas-indonesia.blogspot.com

sorakriau.blogspot.com

Produk

Inkonsistensi Perizinan Pada PT Gunung Mas Raya terhadap RTRWN, RTRWP, RTRWK, maupun TGHK
From Pelanggaran Terhadap Kawasan Bergambut
Dari 12627.9 Ha perkebunan eksisting terdapat, 1962 ha pada kawasan gambut dengan kedalaman 2-4 meter, 1843 ha pada kawasan gambut dengan kedalaman lebih dari 4 meter.
From PT Gunung Mas Raya 1
Google earth
From PT Gunung Mas Raya 1
From PT Gunung Mas Raya 1
Citra Landat Tahun 1990
From PT Gunung Mas Raya 1
Citra Landsat 2000
From PT Gunung Mas Raya 1
Citra Landsat 2005
From PT Gunung Mas Raya 1
Citra Landsat 2007
From PT Gunung Mas Raya 1
Pelanggaran Terhadap Perda No 10 tahun 1994 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau.
From PT Gunung Mas Raya 1
Pelanggaran Terhadap PP No 10 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
From PT Gunung Mas Raya 1
Pelanggaran Terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Rokan Hilir
From PT Gunung Mas Raya 1
Pelanggaran Terhadap Tata Guna Hutan Kesepakatan Pemukiman Dalam Kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling Muara Bio
From Pemukiman Dalam SM Rimbang Baling
Tarusan
From Pemukiman Dalam SM Rimbang Baling
Miring
From Pemukiman Dalam SM Rimbang Baling
Gajah Bataluik
From Pemukiman Dalam SM Rimbang Baling
Batu Sanggan
From Pemukiman Dalam SM Rimbang Baling
Aur Kuning
From Pemukiman Dalam SM Rimbang Baling

Buku Tamu


ShoutMix chat widget

Followers

Labels

forumtataruang at Yahoo! Groups

rimbawan-interaktif at Yahoo! Groups

rsgisforum-net at Yahoo! Groups

komunitaslei at Yahoo! Groups

infosawit at Yahoo! Groups

Photobucket

Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

 Photobucket

Photobucket  

Info Lowongan Kerja

iniGIS.info